Ia pernah datang
seperti cahaya kecil di ujung malamku
hangat, tenang,
seolah dunia tak lagi terlalu kejam.
Namun waktu tak pernah berjanji untuk menetap,
dan cahaya itu kini mulai meredup,
bukan karena ia lelah bersinar,
melainkan aku yang tak pandai menjaganya.
Tanganku sendiri yang gemetar
justru menciptakan luka-luka baru,
kata-kataku yang tak terarah
menjadi duri di hatinya.
Aku ingin memperbaiki,
sungguh aku ingin.
Tapi setiap langkah terasa keliru,
seolah niat baikku tersesat di jalan yang salah.
Dan malam itu
suara yang dulu lembut
berubah menjadi gemuruh yang asing,
membuatku sadar
betapa aku telah mengubah banyak hal.
Aku pun tak lagi utuh di mataku sendiri,
pikiranku riuh,
dipenuhi bisikan yang saling bertabrakan,
menuduhku tanpa jeda.
Aku lelah
bukan hanya pada dunia,
tapi pada diriku sendiri
yang tak kunjung bisa kupahami.
Aku hanya ingin dimengerti
bukan dibenarkan,
bukan dipuja,
hanya dipahami.
Bahwa aku sedang berjuang
di dalam kepala yang tak pernah sunyi.
Meski pada akhirnya
aku tetap kalah oleh diriku sendiri.
Jika diamku bisa meredakan luka,
biarlah aku tenggelam dalam sunyi.
Jika suatu saat aku benar-benar hilang,
bukan karena aku ingin pergi,
melainkan karena aku tak lagi tahu
bagaimana cara bertahan.
Tuhan…
aku lelah.
Jika kehadiranku hanya mendatangkan luka,
ambil saja aku dari cerita mereka.
Bawalah aku ke dalam peluk-Mu,
agar tak ada lagi yang tersakiti
oleh ketidaksengajaanku.
Biarkan mereka bahagia,
meski tanpa aku di dalamnya.
Namun jika aku masih diberi waktu,
ajarkan aku menjadi lebih lembut,
agar aku tak lagi melukai
dengan ketidaksengajaanku.
Dan bila aku belum sempurna,
biarkan aku tetap tinggal,
belajar,
perlahan,
tanpa harus kehilangan segalanya.
Lentera Kian Meredup






