Malam berjalan tenang,
Dan sebuah lagu lama dari Serana milik
For Revenge singgah tanpa diminta.
Nadanya seperti membawa pulang
Ingatan yang pernah kusimpan rapi
Tentang tempat yang dulu terasa
Paling aman untuk pulang.
Pernah ada waktu
Ketika luka-luka lama perlahan reda,
Sebab ada keyakinan sederhana
Bahwa seseorang telah tiba
Untuk menetap lebih lama dari yang lain.
Kepercayaan itu tumbuh perlahan,
Seperti rumah yang dibangun
Dari percakapan kecil,
Dari janji yang terdengar begitu tulus.
Namun rumah kadang runtuh
Bukan oleh angin yang datang dari luar,
Melainkan oleh pintu yang terbuka
Tanpa pernah kita sadari.
Aku pernah mencoba memadamkan semuanya,
menyebutnya kesalahan yang mudah dilupakan.
Namun, sakitnya ternyata tidak sederhana.
Ia tidak seperti hujan yang datang lalu reda.
Ia seperti laut yang terus memukul karang
tanpa henti, tanpa jeda.
Kadang ia datang pelan di tengah malam,
Kadang bersembunyi di balik lagu
Yang tak sengaja terdengar kembali.
Aku ingin membencimu sepenuhnya,
Benar-benar membencimu
Agar luka ini terasa lebih adil.
Namun anehnya,
Di antara semua serpihan kecewa,
Masih ada sisa rasa
Yang menolak untuk benar-benar pergi.
Dan mungkin itu
Yang membuat semuanya terasa lebih dalam.
Namun beberapa cerita
Ternyata berhenti lebih cepat
Dari yang pernah ku bayangkan.
Kini yang tersisa hanyalah perasaan
Yang berjalan pelan di antara kenangan
Antara kecewa yang masih terasa,
Dan kasih yang belum sepenuhnya selesai.
Barangkali waktu
Akan membawa semuanya
Ke tempat yang lebih tenang.
Tapi satu janji tetap tinggal,
Diam-diam dijaga seperti awal dulu.
Sebab ada hal-hal dalam hidup
Yang pernah terasa begitu berarti,
Hingga setelahnya
Hati memilih sunyi
Dari pada menggantinya lagi.





