Kata kebebasan atau bebas sering kali kita temukan di kehidupan sehari-hari baik itu di koran, buku, poster, media sosial, dan yang paling sering yaitu pada saat orasi. Tapi tau gak, apa makna kata kebebasan yang sebenarnya?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata kebebasan sering dimaknai sebagai keadaan bebas, merdeka, lepas, tidak terikat atau tidak bergantung pada pihak manapun. Secara harfiah, kata ini merupakan nomina yang merujuk pada situasi atau hal yang lebih leluasa, tidak ada tuntutan dari luar, atau kewajiban yang mengekang.
Makna kebebasan sudah kita pahami secara bahasa dan mungkin sudah kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kita sering menggunakan kata kebebasan sebagai landasan dalam menyampaikan pendapat di ruang diskusi publik atau bahkan mengkritik pemerintahan. Tapi, apakah hal tersebut sudah di implentasikan sepenuhnya ke dalam tindakan kita? Memang banyak orang yang paham akan makna kebebasan, namun mereka lupa akan satu hal yaitu masih berdiri di atas kaki orang lain.
Manusia modern memang terlihat bebas, tapi di balik layar hidupnya di kendalikan oleh sesuatu yang nyaris tidak disadari seperti validasi orang lain, pengaruh media sosial, notifikasi yang tak henti-henti, dan FOMO (Fear of Missing Out).
Dalam pandangan sosiologis fenomena ini dikenal dengan istilah hiperrealitas dan performatif masyarakat yang dikembangkan oleh Jean Baudrillard. Secara secara sederhana, Jean menjelaskan bahwa hal ini meliputi masyarakat Performatif (tuntutan menjadi yang terbaik) sehingga menghilangkan makna kebebasan yang di jelaskan tadi.
Dalam konteks yang sama, kita seringkali terjebak dalam ilusi kebebasan, di mana kita merasa bebas melakukan apa saja, pergi kemana-mana, tapi sebenarnya kita sedang dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan yang tak kasat mata. Media sosial yang saya sebutkan di atas misalnya, menjadi salah satu faktor yang paling berpengaruh dalam membentuk opini dan perilaku kita. Kita merasa bebas berekspresi, tapi tak sadar bahwa sebenarnya kita sedang berusaha memenuhi ekspektasi orang lain dan takut kehilangan validasi.
Pada akhirnya, kebebasan menjadi sebuah paradoks. Kita memang memiliki kebebasan untuk memilih, tapi pilihan-pilihan kita seringkali dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal. Masukan dari orang lain memang di perlukan namun tidak semua hal harus di terima begitu saja. Kita harus sadar bahwa kebebasan yang sebenarnya bukan hanya tentang tidak adanya batasan, tapi kemampuan untuk membuat pilihan yang berdasarkan pada nilai-nilai dan prinsip-prinsip kita sendiri.
Yang menjadi pertanyaanya adalah, bagaimana kita bisa mencapai kebebasan yang sebenarnya? Apakah kita harus meninggalkan media sosial atau bahkan mengisolasikan diri? Menurut saya tidak juga. Yang terpenting adalah kesadaran dan kontrol diri. Kita harus bisa membedakan antara apa yang kita inginkan dan apa yang orang lain inginkan dari kita. Jadi, coba tanya dirimu apakah benar-benar ingin, atau karena kita ingin dilihat sebagai orang yang “bebas” dan “modern”?




