Risiko Ekonomi yang Dihadapi Indonesia Karena Adanya Invasi Rusia ke Ukraina

oleh -43 views

Presiden Rusia yaitu Vladimir Putin operasi militer khusus yang ditujukan untuk Ukraina pada 24 Februari 2022 lalu. Tak berselang lama dari pernyataan Vladimir Putin, ledakan demi  ledakan terjadi di beberapa kota besar di Ukraina seperti Odessa, Mariupol, Kharkiv, hingga  Kyiv.

Konflik kedua negara semakin memanas dan berhasil menyita perhatian masyarakat global. Ketegangan antara Rusia dan Ukraina masih berlangsung hingga hari ini. Konflik yang terjadi antara kedua negara tersebut akan berisiko bagi perekonomian global, termasuk Indonesia.

Pengamat ekonomi universitas Jember Adhitya Wardhono mengungkapkan bahwa hal yang perlu diperhatikan dari konflik Rusia dan Ukraina adalah terjadinya inflasi global karena sasaran utama dari konflik tersebut yaitu terhambatnya rantai pasok global, hal itulah yang menghambat  pemulihan ekonomi global yang tengah terjadi saat ini.

Adhitya juga menjelaskan hubungan Rusia dengan Indonesia bersifat nostalgic, oleh sebab itu dampak langsung adanya invasi Rusia ke Ukraina lebih ke arah sektor perdagangan meskipun Rusia-Ukraina bukan mitra dagang utama Indonesia.

Konflik antara kedua negara tersebut berdampak pada bahan makanan yang diimpor oleh Indonesia dari Ukraina terutama gandum, besi dan baja. Produsen mie, roti dan tepung  bergantung pada impor gandum dari Ukraina, karena lumbung gandum banyak berlokasi di  daerah Ukraina Timur, secara tidak langsung Ukraina menjadi pemasok utama gandum bagi  Indonesia.

Selain itu, invasi Rusia ke Ukraina juga menyebabkan harga minyak mentah melonjak dan mengalami kelangkaan sehingga saat ini masyarakat menjadi panik buying.

Menurut Direktur Excecutive Center of Economic Studies (Celios) Bhima Yudhistira, kenaikan harga minyak mentah berdampak pada cash flow dan membuat Badan Usaha Milik  Negara (BUMN) berada di bawah tekanan utang atau biasa disebut debt distress.

Risiko ekonomi lainnya yang terjadi karena adanya konflik antara Rusia dan Ukraina adalah fluktuasi nilai tukar harga kebutuhan pokok meningkat.

Oleh karena itu, Bima menyarankan agar pemerintah mengambil tindakan untuk melakukan APBN perubahan yang bertujuan agar bisa menyesuaikan kembali beberapa risiko ekonomi yang dialami Indonesia karena adanya invasi Rusia ke Ukraina khususnya nilai tukar, juga inflasi. (Dewi Sekar Netra Munajati, Mahasiswi Prodi Ekonomi Syariah/6)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.