Mengulik Kisah Mahasiswa Pengukir Prestasi

oleh -108 views

“Dekati Allah SWT, Istiqamah, Do the best every time, Never give up, Be your self, jalani dan syukuri”

Kata-kata yang selalu ditanamkan dalam diri Ilham Wahyudi. Ya, bisa dikatakan, itu lah motto hidupnya.

Ahmad Ilham Wahyudi, lelaki kelahiran Praya, 11 Juli 1999 ini merupakan Wisudawan Terbaik I Universitas pada Wisuda ke-43 dari jurusan Ilmu Qur’an dan Tafsir (IQT) FUSA UIN Mataram.

Terlahir dari keluarga sederhana, yaitu dari orang tua yang bekerja sebagai pedagang kecil-kecilan tak membuatnya minder ataupun berputus asa meraih mimpinya. Buktinya, ia menorehkan segudang prestasi selama menjadi mahasiswa.

Ia mulai bercerita pengalaman dan perjalanannya sejak masuk kuliah hingga prestasi-prestasi yang telah ditorehkannya.

“Saya mengambil program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, karena pada awal dan dasarnya skill dan minat saya memang relevan dengan program studi yang saya ambil dan karena Alhamdulillah saya merupakan Hafidz Al-Qur’an 30 Juz, sehingga saya ingin mengkaji dan mengeksplorasi lebih dalam kajian tentang al-Qur’an secara komprehensif,” ia bertutur seolah-olah mengingatkannya kembali pada masa-masa awal menjadi mahasiswa

Ia dikenal sebagai mahasiswa yang berprestasi, terbukti dari banyaknya prestasi yang diraihnya dan tentunya mampu membanggaanbornag tua, keluarga dan Kampus tentunya.

Delegasi NTB di MTQ Tingkat Nasional di Medan (2018), Delegasi UIN Mataram di PIONIR Nasional PTKIN di UIN Malang (2019), Juara 1 MFQ Tingkat Mahasiswa se-Pulau Lombok (2019), Finalis Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional (2019), 150 Penulis Terpilih Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional, Delegasi UIN Mataram untuk KKN Kolaborasi Nusantara (2021), Juara 1 Mahasiswa dengan Program Kerja Terkreatif (KKN Kolaborasi Nusantara) (2021), Juara 1 Lomba Video Pendek Badan Narkotika Nasional (2021), Juara 1 Pemilihan Santri Sadar Lalu Lintas (2021), Semifinalis OASE (Olimpiade Agama, Sains dan Riset 1) UIN Ar-Raniry Aceh (2021), Delegasi UIN Mataram untuk OASE (Olimpiade Agama, Sains dan Riset 1) UIN Ar-Raniry Aceh (2021), Juara 2 MTQ Cabang M2IQ (Makalah Ilmiah Al-Qur’an) (2021), Juara 3 MTQ Cabang M2IQ (Makalah Ilmiah Al-Qur’an) (2019), Peraih Rektor Award Mahasiswa Berprestasi (2019), Juara 1 Lomba Tahfidz 5 Juz Tingkat Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama (2018), Juara 2 Lomba Penulisan Opini Tingkat Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama (2018), Juara 3 Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama (2018), Juara 3 Lomba Debat Politik Tingkat Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama (2018), Juara 1 Lomba Tahfidz 3 Juz Tingkat Ma’had Al-Jami’ah UIN Mataram, Juara 1 MFQ Tingkat Nasional dalam Gebyar Kompetisi Ilmiah Nasional Mahasiswa Ushuluddin UIN Raden Fatah Palembang 2022 (Bulan Juli 2022), Penerima Beasiswa Tahfidz UIN Mataram, Penerima Beasiswa Prestasi UIN Mataram, Penerima Beasiswa Bank Indonesia (GenBI) 2021 dan 2022 dan pastinya yang paling memorable adalah ketika mendapatkan hadiah umrah dari pemerintah Nusa Tenggara Barat karena menjadi juara 1 MTQ tingkat Provinsi.

Sudahlah, hampir semua prestasi diborong olehnya. Rasanya takkan cukup menuliskan kisah pengalaman dan prestasinya dalam secarik kertas, juga tak habis diceritakan dalam satu hari.

Tak puas dengan itu, Ia kembali menorehkan prestasi menjadi Wisudawan Terbaik I Universitas, prestasi yang menjadi impian semua mahasiswa.

Ia mengaku tak pernah berekspektasi menjadi wisudawan terbaik utama, karena merasa hal itu tidak memungkinkan karena biasanya yang menjadi lulusan terbaik utama berasal dari FTK, FDIK dan FS.

“Saya sangat ingat, target awal perkuliahan saya yaitu membahagiakan kedua orang tua, menjadi mahasiswa berprestasi (ikut lomba-lomba) dan IPK lebih dari 3,50 biar mendapatkan predikat Cum Laude,” ungkapnya mengingat target awal perkuliahannya

Menjadi wisudawan terbaik utama merupakan sejarah baru (New History), bukan hanya bagi Ilham, namun juga bagi program studi serta fakultasnya. Mengingat hal ini menjadi pertama kalinya mahasiswa jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama meraih wisudawan terbaik utama.

Rasa bahagia, syukur dan terharunya tak bisa lagi ia sembunyikan, nampak dari raut wajah Ilham dan orangtuanya, matanya berkaca-kaca menceritakan bagaimana bersyukur dan bangganya ia mampu mencetak sejarah baru.

Menjadi wisudawan terbaik utama tentunya bukan hal yang mudah, harus melewati proses yang panjang dengan banyak sekali ujian dan rintangan yang harus dilalui. Jangan berhenti untuk berproses, karena jika kita berhenti di situlah kita akan gagal (mati langkah), ucapnya mantap.

Tak hanya pintar dan berprestasi, Ilman juga dikenal sebagai laki-laki yang Soleh. Ia membeberkan rahasia suksesnya yaitu senantiasa dekat dengan Sang Pencipta . Tak ada hari yang ia lalui tanpa dekat dengan al-Qur’an (muraja’ah, membaca, menelaah dll), sebelum tidur pun ia mengerjakan shalat hajat dan salat taubat, shalat malam (tahajjud) dan setiap harinya harus ada yang dibaca dan pahami. Da yang selalu ia ingat ialah doa yang paling Mustajab dan rasa terimakasih untuk orang tua untuk setiap tetes peluh yang jatuh demi kelancaran studi saya, untuk setiap air mata yang mengiringi 7 sujud penuh doa untuknya.

Di akhir cerita ia berpesan kepada mahasiswa yang kain agar bisa memanfaatkan waktu dan masa muda dengan baik, menggunakan kesempatan untuk memperoleh ilmu dan pengalaman agar memiliki bekal yang bisa diterapkan, jangan banyak mengeluh dan tidak menunda-nunda waktu.

“Manfaatkan kesempatan kuliah di UIN MATARAM untuk lebih banyak belajar, berdiskusi, menimba ilmu dengan sebaik mungkin, mendapatkan pengalaman, ataupun membangun relasi, jangan hanya sekedar menjadi mahasiswa KUPU-KUPU (Kuliah Pulang). Menikmati dunia perkuliahan dengan bermain-main boleh asal tidak berlebihan dan selama masih berada di jalur positif,” ujarnya tegas

Belajar itu harus seumur hidup agar selalu bisa beradaptasi dengan perubahan zaman. Jadi, Dekati Allah SWT, Istiqamah, Do The Best Every time, Never Give Up, Be Your Self, Jalani dan Syukuri untuk memantapkan dan memantaskan diri serta menyiapkan bekal untuk menghadapi dunia yang sesungguhnya yakni dunia kerja, lingkungan keluarga maupun masyarakat di mana tantangan, hambatan, serta ujian yang dihadapi akan lebih berat apabila dibandingkan ketika kita masih berada di bangku kuliah. Tetap Semangat

“Man Jadda Wajada (Siapa yang bersungguh-sungguh pasti dapat)” dan pastinya yang terpenting adalah

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (lainnya).” ujarnya sembari tersenyum simpul dengan mata berbinar penuh semangat menutup percakapan sore hari itu.

Sama halnya dengan Ilham Wahyudi, mahasiswi Perbankan Syariah FEBI UIN Mataram satu ini juga mampu mengukir prestasi di balik keterbatasannya

“Setelah kesulitan pasti ada kemudahan, dan itu diucapkan berulang-ulang di dalam al-Qur’an”

Kalimat yang menjadi motivasi Esy Aulia mahasiswa Perbankan Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, yang menjadi lulusan terbaik se-FEBI pada yudisium ke-10 tahun 2022.

Menjadi lulusan terbaik menjadi mimpi hampir seluruh mahasiswa di Indonesia bahkan di UIN Mataram sendiri, namun jalan terjal yang mereka lalui bukan hal yang hanya menguras pikiran, namun juga tenaga serta batin.

Esy Aulia misalnya, ia menceritakan dengan penuh haru jalan yang di laluinya hingga bisa menjadi lulusan terbaik di tingkat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. Pada saat awal mengerjakan skripsi Esy panggilan akrabnya menceritakan di timpa musibah sakit, yang dalam 2 bulan itu tidak boleh beraktivitas di luar terlalu banyak.

“Pada awal garap skripsi saya divonis sakit Delvasi, kata dokter tidak boleh terkena angin, jadi selama dua bulan saya diam di rumah” tuturnya.

Mahasiswa asal Lombok Timur ini juga menceritakan bukan hanya dia yang ditimpa sakit namun juga kakaknya yang kecelakaan terkena reruntuhan bangunan yang membuatnya tidak bisa berjalan, sehingga harus fokus di rumah untuk mengurus kakaknya, inilah yang menghambat proses pengerjaan skripsi.

Dengan do’a dan ikhtiar yang ia lakukan, kemudahan demi kemudahan diberikan oleh Allah Swt. Hingga pada akhirnya bisa menyelesaikan skripsi pada semester ini.

Ketika menceritakan soal orang tuanya, Esy tak bisa lagi membendung air matanya untuk tidak keluar, kedua orang tuanya memamg sudah tiada, namun meskipun begitu ia tidak kehilangan semangat dalam menyelesaikan pendidikannya.

“Jangan sampai tidak punya orang tua membuat kita berkecil hati, tidak boleh membedakan diri. Kita harus tetap semangat dalam melanjutkan pendidikan kita,” jelasnya dengan penuh keharuan.

Hal yang terpenting dalam hidup ini adalah buatlah kedua orang tua bangga, memberikan yang terbaik untuk mereka dan juga tidak membani mereka dengan tingkah laku yang kita lakukan.

Menjadi lulusan terbaik hanyalah bonus dari jalan panjang yang dilalui, karena yang terpenting disini adalah membuat mereka bangga dan tidak membebankan mereka sebagai orang tua.

Di akhir Esy membagikan tips dalam menyelesaikan pendidikan, yang selama ini ia terapkan dalam dirinya. Jangan pernah merasa tidak mampu dalam menyelesaikan sesuatu termasuk pendidikan karena setelah kesulitan pasti ada jalan. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.