
Ro’yuna Redaksi-Sejumlah 3.806 mahasiswa baru UIN Mataram ikuti acara sosialisasi Wawasan Kebangsaan, dalam kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK), Kamis (29/08/2024).
Sosialisasi yang dilaksanakan di Gedung Auditorium Kampus II UIN Mataram tersebut, menghadirkan narasumber dari Kepolisian Daerah (Polda) Nusa Tenggara Barat (NTB), Iptu Rachmat R.A.
Dalam sosialisasi ini, Iptu Rachmat menyampaikan pentingnya memahami ciri khas bangsa Indonesia yang meliputi kebanggaan terhadap identitas nasional, seperti Bendera Merah Putih, bahasa Indonesia, dan lambang negara.
Selain itu, ia memaparkan ciri khas bangsa Indonesia yang lainnya, seperti cinta tanah air, pengorbanan demi bangsa, cinta budaya, dan penghargaan terhadap jasa pahlawan.
Dengan demikian, Iptu Rachmat juga memberikan beberapa cara bagi mahasiswa baru agar bisa memahami dan mencintai ciri khas bangsa Indonesia.
“Generasi muda dapat berkontribusi melalui pendidikan, kebiasaan menyanyikan lagu nasional, mematuhi aturan untuk menjaga ketertiban masyarakat, mendukung produk dalam negeri, serta memanfaatkan teknologi sebagai media pengenalan budaya,” jelasnya di hadapan seluruh mahasiswa baru.
Acara sosialisasi tersebut tenyata membawa tanggapan baik dari para peserta. Salah satunya, mahasiswa jurusan Ilmu Qur’an dan Tafsir, Hasbullah. Ia mengaku materi yang telah disampaikan sangat membantu dalam memperluas pengetahuannya terhadap bangsa Indonesia.
“Sosialisasi tadi sangat Menarik, bermanfaat, materinya juga bagus dan luar biasa” ujar Hasbullah saat ditemui oleh Tim LPM Ro’yuna usai acara sosialisasi.
Penyampaian materi tentang modernisasi beragama juga turut disampaikan dalam acara sosialisasi tersebut, dengan menhadirkan narasumber dari salah satu dosen dari Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIK), Faturrahman, M.Sos.
Ia menjelaskan terkait empat prinsip utama dalam modernisasi beragama, yang terdiri dari cinta tanah air terhadap persatuan negara republik Indonesia (NKRI), toleransi, anti kekerasan dan menghargai tradisi dan budaya.
“Konteks persepsi modernisasi beragama ini ada empat poin, yang pertama cinta tanah air. Bagaimana kalian cinta terhadap negara persatuan negara republik Indonesia (NKRI), cinta kepada bhineka tunggal Ika. Kemudian yang kedua itu toleransi, menghargai perbedaan keyakinan dan praktik keagamaan orang lain,” jelas Faturrahman.
Di akhir penyampaian materinya, Ia mengajak seluruh mahasiswa baru untuk melawan segala bentuk kekerasan.
”Dalam menyelesaikan perbedaan atau konflik yang berkaitan dengan agama, mari kita sama-sama menolak segala bentuk kekerasan, baik fisik maupun verbal. Selain itu, mari kita menghargai dan menghormati tradisi dan budaya kita,” tutupnya.
Lana/Amel









