Bulan kelahiran Nabi Muhammad Saw merupakan bulan yang dinantikan oleh seluruh umat muslim di Indonesia, sejatinya bulan yang dirayakan setiap 12 Rabiul Awal dalam kalender Hijriyah ini memiliki perayaan adat yang berbeda di setiap daerah. Salah satunya di Desa Bayan, Kabupaten Lombok Utara
Berbeda dari daerah lainnya di Lombok, Bayan memiliki keunikan tersendiri dalam perayaan maulid Nabi Muhammad
“Maulid Adat” sebutan yang diberikan dalam perayaan ini.
Bayan terkenal dengan adatnya yang masih kental
Pada hari Sabtu selepas sholat Maghrib rombongan Ro’yuna redaksi mengunjungi salah satu Pemangku Adat Desa Bayan yang namanya cukup termahsyur di kalangan pemerintah daerah khususnya Pemda Lombok Utara. Dia adalah Mamiq Raden Gedarip, salah satu Pemangku Adat di sana. Mamiq Gedarip selalu dipercayakan oleh masyarakat disana dalam menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan bayan termasuk dengan adat dan tradisi yang di daerah tersebut.
Berbeda dari daerah lainya di Lombok, perayaan maulid di bayan memiliki prosesinya sendiri yang sangat kental dengan budaya.
Maulid adat Bayan merupakan salah satu tradisi besar masyarakat Bayan yang berada di kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara. Tradisi ini dilaksanakan untuk memperingati maulid nabi Muhammad shalallahu alaihi wa. Waktu dilaksanakannya tradisi ini adalah dua hari setelah maulid nabi secara Nasional. Rangkaian acara tradisi ini dilaksanakan selama dua hari yakni hari pertama dinamakan dengan kayuq aiq dan hari kedua dinamakan dengan gawe.
Pelaksanaan maulid adat ini dilaksanakan di rumah adat Karang Bajo Bayan Bleq. Masing-masing wilayah adat memiliki rumah adat tersendiri salah satunya yang ada di Bayan Bleq.
Dalam pelaksanaan tradisi ini masyarakat dianjurkan untuk memakai pakaian adat khas bayan berupa kain khas yang ditenun. Pakaian ini biasa disebut dengan kemben untuk perempuan dan Dodot untuk laki-laki. Beberapa jenis kain ini diantaranya adalah kain lipaq yang dilingkarkan di dada seorang perempuan (kemben), kain abang (merah) yang digunakan sebagai bawahan (sinjang), ada juga kain poleng yang digunakan dalam dua versi yakni sebagai sinjang dan kemben. Sementara laki-laki menggunakan bawahan kain abang yang diikat dengan kain rajasa.
Untuk hiasan kepala bagi perempuan yang bertugas menumbuk padi mereka diharuskan menggunakan Jong (hiasan kepala khas Bayan) sedangkan laki-laki diharuskan menggunakan ikat kepala yang dinamakan sapuq.
Para masyarakat yang datang mengikuti tradisi tersebut diwajibkan membawa beras untuk perempuan ayam atau kambing untuk laki-laki.
Aturan lainnya dalam tradisi maulid adat ini adalah setiap masyarakat yang mengikuti kegiatan tersebut tidak diperbolehkan menggunakan apapun selain kain yang disebutkan tadi. Semua perhiasan di lepas, tidak boleh menggunakan bra ataupun celana dalam.
Puncak acara dari maulid adat ini adalah masuknya praja maulid ke dalam masjid kuno membawa beberapa makanan yang disebut dengan ancak. Kehadiran para praja maulid ini selalu menjadi hal yang paling dinanti-nanti oleh para masyarakat yang mengikuti tradisi ini. Tidak hanya bagi mereka yang mengikuti tradisi tersebut. Orang-orang dari berbagai kalangan pun juga ikut meramaikan tempat tersebut hanya demi melihat praja maulid.
Perayaan maulid adat ini sudah dijadikan sebagai destinasi wisata yang wajib untuk dihadiri oleh para pencinta budaya dan wisata karena keunikannya. Sehingga tidak sedikit orang-orang dari luar daerah maupun mancanegara turut meramaikan tradisi tersebut. (K1)






