Essensi Cinta Dalam Persepsi Pembelajaran Akidah Akhlak

oleh -48 views

Maulana Abdul Aziz

Mahasiswa Jurusan PGMI FTK UIN Mataram

Ada hal yang menarik dalam penciptaan nabi Adam, yaitu kala dirinya diciptakan dan tinggal di surga, dirinya mampu berbahagia tanpa henti dengan menikmati segala fasilitas dan prasarana yang terdapat disana. Namun sebagai manusia yang tidak sempurna, nabi Adam ujung-ujungnya merasa bosan, kendati diciptakan sempurna, entah mengapa dirinya merasa tidak sempurna.

Allah kemudian menciptakan makhluk yang serupa dengannya, yaitu Siti Hawa. Hawa diciptakan unik dengan syahwat yang lebih tinggi daripada nabi Adam, maka ketika ia dipertemukan dengan nabi Adam, Siti Hawa hampir mengejar dan langsung memeluk nabi Adam. Namun kemudian Allah menciptakan ‘rasa malu’ pada Siti Hawa sehingga menjaganya dari perbuatannya tersebut.

Akhirnya jadilah Siti Hawa seorang perempuan yang pemalu nan berseri-seri dan diperkenankan untuk Nabi Adam. Dan dalam sejarahnya, itulah pertama kalinya dalam sejarah bagaimana manusia jatuh cinta.

Di zaman sekarang, pembahasan akan cinta tidak pernah ada habisnya. Kita akan menemukannya pada jutaan quote yang bertebaran di media sosial dan tentu akan menemukannya pada status Whatsapp teman kita yang sedang putus cinta. Namun bagaimanapun kita tidak akan pernah bisa memungkiri bahwasanya semakin maju peradaban, esensi cinta itu semakin pudar dan hilang.

Sebagai keturunan nabi Adam dan Siti Hawa, kita sama-sama kehilangan esensi dalam cinta itu sendiri, bahkan kehilangan esensi dari diri kita sendiri. Karena pada hakikatnya, nabi Adam merupakan pemimpin yang mengandalkan logika dan kemampuan memecahkan solusi, sementara perempuan diciptakan dengan ‘rasa malu’ untuk menjaga diri.

Namun kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi menjadikan esensi-esensi tersebut menghilang. Semakin maraknya globalisasi dan menjangkitnya westernisasi menjadikan kita sebagai umat manusia menjadi makhluk yang tidak tahu aturan dan kehilangan fitrah sebagai hamba.

Laki-laki di zaman sekarang yang memang memiliki amanah untuk menjaga perempuan cenderung menyakiti perempuan, sementara perempuan yang memiliki rasa malu untuk menjaga dirinya cenderung menjadi pribadi yang tidak tahu malu. Ujungnya, kedua belah pihak saling menyalahkan sementara ketimpangan zaman akibat hal tersebut semakin menjadi-jadi.

Pacaran yang dulunya tabu juga pada akhirnya menjadi lazim. Padahal dalam budaya orang Lombok, pacaran tidak pernah ada, yang ada hanyalah midang. Midang itu sendiri merupakan suatu pendekatan dari terune (dalam bahasa Indonesia berarti pemuda) kepada dedare (dalam bahasa Indonesia berarti gadis) untuk saling kenal mengenal, atau secara syar’i disebut taarufan.

Berbeda dengan pacaran, konsep midang lebih kepada memberikan komitmen terhadap pasangan yang diinginkan tanpa berani melakukan hal yang berlebih seperti memegang apalagi hal-hal yang lebih buruk daripada itu. Terlebih midang dilakukan di rumah sang dedare sehingga ia juga tidak akan lepas dari penjagaan orangtua mereka, hal ini kemudian membuat perempuan dan lelaki tersebut ‘tetap terjaga’ sebelum pernikahan menghalalkan mereka.

Namun globalisasi yang semakin gencar dengan dampak buruknya membuat nilai-nilai budaya tersebut menghilang dan kita semakin keluar dari fitrah itu sendiri. Padahal perempuan dan laki-laki memang diciptakan untuk saling menjaga dan membina, guna membuat kehidupan dunia yang diamanahkan kepada kita menjadi lebih baik.

Dalam pembelajaran akidah akhlak, nilai yang ditanamkan merupakan nilai yang sesuai dengan fitrah umat manusia sebagai khalifah di muka Bumi. Juga sesuai dengan alasan nabi Muhammad Saw diturunkan ke Bumi, yaitu menyempurnakan akhlak umat manusia.

Pembelajaran akidah akhlak sejak dini merupakan sebuah sarana yang efektif untuk mengembalikan kita kepada fitrah tersebut, juga kembali menemukan esensi cinta itu sendiri. karena dalam Islam, kita tentu tidak akan hidup selamanya di Bumi, melainkan di akhirat. Hanya saja untuk layak berada di akhirat yang baik, kita memang mesti menjaga satu sama lainnya dan saling mengingatkan untuk berbuat kebaikan.

Pada akhirnya, esensi cinta dalam akidah itu adalah menjaga, seperti matahari yang rindu kepada Bumi, ia tetap menjaga Bumi agar selamat dari apinya. Namun masih bisa memberikan kasih sayang kepada Bumi melalui cahayanya.

Rindu? Tentu. Selama ada jarak, ruang, dan waktu, rindu akan tetap ada. Akan tetapi ingatlah bahwasanya kendati rindu menggebu-gebu namun matahari tidak akan pernah berani mendekati Bumi karena tidak ingin Bumi hancur dalam pelukannya. Matahari tetap menjaga melalui cahaya seumpama doa yang dilantunkan pecinta kepada kekasihnya.

Dan terakhir, dapatkah kita menyebut pacaran itu sebagai cinta jikalau pada akhirnya kita terbakar bersama didalam api neraka?

Maka dari itu mari kita saling menjaga, semoga orang yang kita cinta baik akhlaknya sehingga kita bisa seiman dan pada akhirnya bisa seamin. Aamiin.

Biografi: Penulis merupakan mahasiswa PGMI semester IV yang hobi membaca dan menulis, salah satu essai-nya terbit dalam buku antologi dan merupakan penulis dalam blog pribadinya kurakurapejalan.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.