Dilema Pendidikan: Mahasiswa Tidak Ada Kesadaran di tambah Sistem Pendidikan yang Meninabobokan

oleh -143 views
Penulis: Alimun

Pendidikan adalah salah satu cara untuk membebaskan manusia dari belenggu kebodohan dan ketidaktahuan atau memanusiakan manusia (humanisasi). Namun, jika pendidikan hanya sebatas jalan untuk mendapatkan gelar atau sekedar ingin mendapat pengakuan dari manusia, maka pendidikan justru bisa membuat manusia menjadi mekanis, pasif, dan kerdil secara nalar maupun karakter.

Ketika pemikiran mahasiswa terjebak dalam hal mengisi absen atau mengejar gelar semata, maka pendidikan justru membelenggu manusia dalam kebodohan baru: kebodohan akan nilai diri dan etika. Saya melihat fenomena ini seperti yang dikatakan oleh Paulo Freire dalam bukunya Pendidikan Kaum Tertindas adalah “pendidikan perbankan” dimana mahasiswa hanya dipandang sebagai wadah kosong yang diisi fakta-fakta, yang pada akhirnya ditumpuk demi tujuan: segera selesai dan mendapatkan ijazah sebagai komoditas, bukan bukan pengetahuan dan bekal hidup.

Fakta yang sering kali terjadi di ruang kelas adalah ketika kebisingan menghalangi materi yang sedang dijelaskan, maka yang pasti akan terjadi adalah kuliah akan terasa sia-sia tanpa makna dan akhirnya keluar dengan otak kosong. Pada saat dosen menjelaskan, mahasiswa ribut dan ngobrol sendiri. Ketika dosen berhenti sejenak dan bertanya, “Ada yang mau bertanya?” Kelas menjadi diam, bisu, hening, takut, muka seperti orang tolol. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah ini benar-benar ruang belajar atau hanya sekedar ruang tunggu waktu selesai?

Menurut saya, ini bukan soal etika dan bukan juga sekadar “anak-anak zaman now”. Dan ini juga bukan soal kurang ajar atau malas. Ini adalah soal kebisingan tanpa kesadaran dan keheningan tanpa keingintahuan. Ini merupakan ketidaksiapan mental dalam proses belajar akibat tidak adanya kesadaran diri.

Pikiran mahasiswa saat ini dipenuhi oleh notifikasi, drama medsos, dan drama percintaan yang belum kunjung selesai. Tapi penuh bukan berarti “fokus”. Tidak sedikit mahasiswa duduk santai di kelas pura-pura mendengarkan, tapi pikirannya terdampar di mana-mana, sangat di sayangkan bukan? Saat waktunya dosen membuka sesi tanya jawab, yang tersisa hanya kebingungan dan kekosongan.

Begitupun dengan sistem pendidikan kita, dosen hanya menuangkan informasi ke kepala kosong. Mahasiswa diperlakukan seperti wadah pasif. Dan hasilnya apa? menghafal, tapi tidak memahami, ribut, tapi tak berani tanya dan duduk, tapi tak benar-benar hadir. Inilah hasil dari pendidikan yang tidak membebaskan, tapi meninabobokan dan bahkan membuat mahasiswa semakin bodoh.

Di lain sisi, ada yang bertanya dianggap cari muka dan tak jarang dibilang sok asyik. Padahal, bertanya adalah bentuk keberanian diri serta sebagai bentuk interaksi dengan dosen, agar tidak menciptakan budaya pengajaran yang dogmatis, anti kritik.

Sayangnya, dibudaya pendidikan kita rasa takut sering lebih kuat dari pada rasa ingin tahu, akhirnya mahasiswa yang berani bertanya dianggap kelainan dan bahkan dibalang sok pintar. Saat mahasiswa lebih takut bertanya daripada ditertawakan, dan lebih berani ribut daripada mendengarkan. Maka itu bukan kenakalan melainkan itu adalah kegagalan sistem dan kurangnya kesadaran diri. Jika budaya tersebut tetap dilestarikan dalam pendidikan kita, maka secara tidak langsung kita sedang menciptakan generasi yang ahli bersikap netral, diam, dan patuh.

Belajar bukan tentang siapa yang bisa diam paling lama. Dan ruang kelas bukan tempat melarikan diri dari kenyataan. Kehadiran fisik tidak selalu berarti kehadiran pikiran, seperti halnya ungkapan Rene Dascartes salah satu filsuf modern “aku berpikir maka aku ada”.

Kalau kita tidak sungguh-sungguh hadir, apa bedanya dengan kursi dan bangku yang duduk diam?

Ruang kelas sebenarnya adalah wadah untuk menampakan kita sebagai generasi yang berpikir, sebagai tempat untuk mendalami rasa ingin tahu dan mengungkap apakah kita hadir sebagai seorang pelajar atau sekadar mencoreng kertas kosong. Jadi, tanya dirimu: Apakah kamu sedang belajar atau hanya numpang duduk dan lewat?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.