Setahun sudah berlalu, pandemi sudah merubah semua sendi kehidupan, semua aktivitas yang dilakukan secara online begitu juga kuliah online yang tak kunjung usai.
Hal ini ternyata sangat membosankan yang dirasakan sebagian besar mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram Hal tersebut terungkap dalam curhatan mahasiswa belajar daring. Banyak mahasiswa yang sudah mulai bosan dan mengeluhkan proses perkulihan dilakukan secara daring.
Mulai adanya kebosanan dengan sistem ini, banyaknya tugas yang diberikan dosen, dan adanya kerinduan untuk berjumpa dengan kawan-kawan serta ingin merasakan kuliah tatap muka yang menurut mereka sangat membantu dalam memahami ilmu secara efektif.
“kuliah online sangat berdampak terhadap saya ketika tidak memiliki kuota atau jaringan internet. Apalagi ada beberapa pengajar yang melakukan video meet, tapi waktunya dipersingkat. Tadinya saya sedang mencari jaringan internet untuk mengikuti perkuliahan, tiba-tiba perkuliahannya udah selesai. Lebih ngga enak lagi, kalau pengajar tersebut minta bukti kehadiran dengan mencantumkan absen atau screenshot video perkuliahan. Selain itu, kuliah online juga nggak bisa menjamin perkuliahan yang kondusif. Karena pasti ada saja mahasiswa yang kurang paham dengan internet, dan akhirnya mempengaruhi mahasiswa lainnya juga yang sudah bisa beradaptasi. Sehingga sinkronisasi menjadi tidak seimbang antar mahasiswa yang telah paham, mahasiswa yang kurang paham, dan pengajar”. Keluh Amira, Mahasiswi KPI.
Yang lebih membingungkan lagi, kadang-kadang tugas diberikan sudah melebihi kapasitas, “yang lebih membingungkan lagi Tugas yang diberikan saat kuliah online tidak terstruktur dengan baik seperti kuliah offline. Kalau kuliah online, justru mahasiswa lebih didorong supaya cepat menyelesaikan tugas, kemudian didatangkan lagi tugas yang baru. Padahal tugas sebelumnya masih dalam tahap memahami, belum sampai tahap mengerjakan”. Tambahnya.
Berbeda lagi dengan Dhea Mahasiswi hukum ekonomi syariah, yang malah mengeluhkan Maslaah UKT yang terasa sia sia karna kuliah online, “Rasanya selama kuliah dari 1 tahun banyak beban itu pun kepikiran lebih baik uang yang buat bayar daftar ulang sama bayar UKT dipakai buka usaha”. Ujarnya.
Selain itu juga ada mahasiswa yang merasa bersyukur karna kuliah daring saat ini membuat hemat karna tidak banyak mengeluarkan uang, “Tapi kalau sya pribadi bersyukur karena saya bisa ngurus keluarga dan tidak mengeluarkan uang untuk sewa kos
dan pasti ada hikmah dari semuanya”. Ujar Amel mahasiswi perbankan syariah.
Berbeda dengan teman seprodinya Riswandi mahasiswa perbankan syariah juga mengatakan kuliah daring sangat tidak efektif. Dengan pembelajaran via online ini banyak materi yang tidak dimengerti. “Kuliah online ini sangat tidak efektif, karena dengan sistem pembelajaran via online sulit di mengerti, memang kami sebagai mahasiswa dituntut untuk belajar sendiri, cari materi sendiri. Tapi terkadang kita mau bertanya saja slow respon. Cuman bilang nggih, terimakasih banyak bapak/ibu padahal itu semua hasilnya zonk atau mahasiswa tidak paham. Terkadang setiap dosen beda2 cara mengajarnya, ada yg memang cepat untuk di mengerti dan ada yg memang sulit untuk di mengerti. Berbeda dengan offline atau tatap muka secara langsung. Kalau bertanya langsung di jelaskan dengan dosennya”.
Dalam beberapa diskusi, banyak pemerhati pendidikan menyebutkan kuliah daring memang tidak efektif, selain membutuhkan biaya banyak bagi mahasiswa. Namun, di tengah pandemi Covid-19 yang menghentikan kuliah tatap muka sementara waktu, segala hal pahit ini terkadang memang harus ditelan bersama. Tak hanya bagi mahasiswa, dosen pun tidak punya banyak pilihan. (Putri)




