Oleh : Kinan Raditama
Antar-pulau dan seorang tualang gila
Kota metropolitan masih terlelap
Kabut memayungi jalanan
Dan senyummu, membawaku pada dunia yang liar.
Segala-galanya gila.
Tak bisa kupastikan, malam ini bulan menunjukan dirinya.
Karena bersaing denganmu adalah hal yang sia-sia.
Tatapmu seperti mangata yang berputar menyoroti segala penjuru, tak terkhusus aku.
Angin liar sesekali berebut mencumbui tubuhmu.
Sialnya, aku harus cemburu.
Dan tak adapun satu hal yang ku tahu darimu selain cantikmu.
Di akhir persimpangan itu, wangimu dihantar angin.
Dan dinding malam yang rapuh dan kelam itu menjadi surga sesaat.
Aku mengingatnya.
Ku jerat ingatan ini dengan menulis puisi.
Tenggelam dan abadi, larung dan tak pernah kutemui lagi.
Puisi ini berlarian seperti angin ribut di malam itu.
Yang membuatmu meremas kulit indahmu.
Puisi ini berakhir di ujung malam.
Di saat, wajah sang surya menapakkan diri di tengah kesunyian kota.
Yang membangunkan segala jenis manusia
Kecuali engkau dan dunia yang kau ciptakan, terlelap
Engkau menghilang seperti kapal Nuh setelah berlayar
Tak ada jejak
Hanya ingatan yang tersisa
Kasih, puisi ini adalah hal yang tak kusampaikan
Di pagi ini, ku tinggalkan sepotong puisi di balik jendela
Aku akan meninggalkan kota



