Tapak Tilas Perjalanan LPM Ro’yuna UIN Mataram

oleh -55 views
oleh
Penulis: Alimun (Anggota LPM Ro’yuna)

Sejarah berdirinya Pers tidak terlepas dari sejarah perkembangan Negara Indonesia. Lahirnya bukan tanpa sebab atau hanya hadir untuk mengisi kekosongan. Melainkan, Pers lahir atas dasar keresahan terhadap ketidakadilan.

Pers lahir sebagai pengontrol, yang paling penting menyuarakan kebenaran. Tidak ada yang paling utama selain kebenaran. Pers adalah kekuatan yang independen. Pers tetap berdiri tegak di atas kaki yaitu kebenaran.

Tepat pada 17 September 1998 lahirlah Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Ro’yuna, Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram.

Sebagai wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan dalam bidang Media, Penulisan, Penelitian, dan khususnya Dunia Jurnalistik. Salah satu media untuk menyuarakan suara-suara yang tak pernah terdengar sebelumnya.

“Lahir di Rahim Reformasi”

Kelahiran LPM Ro’yuna tidak bisa dilepaskan dari rahim Reformasi 1998. Saat rezim Orde Baru runtuh, saat jalanan Mataram hingga ibu Kota dipenuhi pekik mahasiswa yang menuntut demokrasi, saat itulah LPM Ro’yuna menemukan nadi pertamanya.

Jika Tirto Adhi Soerjo menjadikan pers sebagai alat perjuangan melawan kolonial, maka kita “Ro’yuna” menjadikan pers sebagai alat perjuangan melawan pembungkaman di dalam kampus sendiri.

Nama Ro’yuna dipilih bukan tanpa makna. Ro’yuna adalah jamak dari kata Ro,yun pemikiran, pandangan, gagasan. Bahwa kebenaran tidak pernah tunggal, ia lahir dari dialektika banyak kepala para pendahulu.

Independen, Kritis, Terpercaya. Bukan semboyan yang hanya digaungkan dalam setiap perdiskusian, melainkan simbol yang menggambarkan keberanian untuk tetap berdiri pada kaki sendiri. Kritis terhadap semua persoalan yang dihadapi, dan terpercaya sebagai wadah untuk pengembangan diri bagi mahasiswa.

“Perjalanan yang Tidak Selalu Mulus”

Sebentar lagi LPM Ro’yuna akan berumur 28 tahun, bukanlah waktu yang singkat. Tapak tilas Ro’yuna adalah tapak tilas yang penuh luka dan pelajaran.

Dari cerita para senior hebat, pernah di masa awal, mesin ketik manual dan buletin menjadi senjata utama. Pernah dianggap sebelah mata, dicap sebagai pengganggu, bahkan dibungkam karena tulisannya terlalu jujur oleh penguasa yang tidak mau di runtuhnya.

Namun di situlah marwah pers mahasiswa diuji. Menurut saya, dari LPM Ro’yuna kita belajar bahwa menjadi pers bukan hanya soal bisa menulis berita, melainkan soal berani menanggung risiko dari berita yang ditulis.

Dari angkatan ke angkatan, dari Pemimpin Umum ke Pemimpin Umum, estafet itu terus dijaga. Ada yang mewariskan idealisme, ada yang mewariskan keberanian, ada juga yang mewariskan luka.

“LPM Ro’yuna Hari Ini: Antara Idealisme dan Disrupsi”

Hari ini tantangannya berbeda. Jika dulu musuhnya adalah pembredelan dan pembukaman. Maka hari ini musuhnya adalah banjir informasi, ketidak sadaran anggota dan banyak yang lalai terhadap Literasi. Pers mahasiswa ditantang untuk tidak hanya cepat, tapi juga akurat. Tidak hanya viral, tapi juga bernilai.

Di tengah gempuran media sosial, Ro’yuna tetap pada khittahnya: menjadi ruang belajar. Tempat di mana mahasiswa Fakultas Dakwah belajar investigasi, mahasiswa Tarbiyah belajar menulis opini, mahasiswa Syariah belajar memotret ketimpangan hukum, dan mahasiswa Ushuluddin belajar merawat nalar kritis. Begitu juga sebaliknya.

LPM Ro’yuna bukan hanya sekedar Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Ia adalah sekolah ideologi, sekolah keberanian, dan sekolah kesetiaan pada kebenaran.

“Menatap Masa Depan”

Tapak tilas ini belum selesai. Selama masih ada kebijakan kampus yang tidak berpihak pada mahasiswa, selama masih ada suara-suara kecil yang dibungkam, selama masih ada kebenaran yang ditutupi maka selama itu pula LPM Ro’yuna harus tetap hidup.

Ucapan dari Saya Pribadi: Alimun.
Selamat Ulang Tahun LPM Ro’yuna..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.