Tanggapan Mahasiswa Terhadap Pelaksanaan MUSMA di Akhir Kepengurusan SEMA

oleh -73 views

Ro’yuna Redaksi-Munculnya pamflet Penetapan Musyawarah Mahasiswa (MUSMA) UIN Mataram dari Senat Mahasiswa (SEMA) Universitas mengundang perhatian dari kalangan mahasiswa khususnya mahasiswa dari UKM dan BKM. Pasalnya, Musyawarah yang biasanya dilakukan pada awal periode kepengurusan nyatanya diadakan di akhir kepengurusan.

Seperti yang dirasakan oleh Ketua Dewan Racana (KDR) Pramuka Didik Rahmadi, ia menilai lambatnya langkah SEMA universitas dalam mempersiapkan Musma.

“Ketua SEMA terkesan lambat dalam mempersiapkan kegiatan ini, padahal kegiatan ini merupakan kegiatan yang sangat penting dilaksanakan guna kita bersama-sama menjalankan roda organisasi dengan baik,” ujarnya ketika dihubungi Tim LPM Ro’yuna via WhatsApp (15/11/22).

Ia mengungkapkan kekecewaannya dikarenakan pelaksanaan MUSMA yang seharusnya dilaksanakan pada awal masa jabatan SEMA namun dilaksanakan di akhir periode kepengurusan.

“Saya sangat menyayangkan pelaksanaan MUSMA ini sangat terlambat yang mana semestinya terselenggara sejak awal masa jabatan SEMA berlaku, bukan di akhir periode kepengurusan seperti ini,” tukasnya.

Ia mengaku minimnya kinerja SEMA Universitas yang seharusnya mampu menyesuaikan dengan anggaran yang diberikan untuk kepentingan program yang berdampak pada semua mahasiswa.

“Kinerja SEMA sangat minim dirasakan. Hal itu tentu berbanding terbalik dengan anggaran yang disediakan oleh kampus, yang mestinya dana tersebut bisa dikelola untuk kepentingan program yang berdampak untuk semua Mahasiswa,” imbuhnya.

Lebih lanjut ia berharap Musma bisa terselenggara dengan mementingkan kepentingan mahasiswa bersama bukan lagi ego semata.

“Saya harap MUSMA bisa diselenggarakan dengan cara seksama, berjalan dengan lancar tanpa harus mementingkan ego semata, tapi ini kepentingan mahasiswa pada umumnya,” tutupnya

Senada dengan hal tersebut, Ketua Umum Literasi Ilmiah (LI) Rynaldi juga mengungkapkan hal yang sama. Ia menyatakan bahwa beberapa tahun ke belakang Ormawa UIN Mataram tidak memiliki pedoman organisasi yang jelas yang mengakibatkan banyak permasalahan di organisasi internal kampus.

“Sudah beberapa tahun ini Ormawa UIN Mataram tidak mempunyai pedoman organisasi yang jelas, sehingga membuat banyak pemasalahan di organisasi internal kampus. Terutama UKM yang walaupun sampai sekarang sudah ada SEMA dan DEMA Universitas tapi masih belum bisa menampung segala permasalahan yang ada untuk disuarakan dengan pihak Rektorat,” tuturnya. (15/11/22).

Lebih lanjut ia berharap semua kepentingan mahasiswa dan Ormawa bisa tersalurkan ketika Musma, agar mampu memperbaiki roda organisasi internal kampus, mengingat Musma merupakan pedoman dalam berorganisasi.

“Kita lihat nanti pas acara MUSMA semoga segala kepentingan mahasiswa dan Ormawa bisa tersampaikan,” sambungnya.

Tak jauh berbeda dengan kedua Ketua UKM tersebut, Wakil Direktur Kopma Rio juga merasakan hal yang sama. Ia mengungkapkan bahwa SEMA Universitas telah gagal karena mengadakan Musma di akhir periode dan tidak dapat menjalankan aturan-aturan yang telah dibuat.

“Mereka kan membahas terkait dengan teman-teman UKM dan BKM jadi kalau semisal diadakan di akhir periode ini saya rasa bisa dikatakan teman-teman SEMA Universitas telah gagal karena aturan-aturan yang mereka buat tidak mampu mereka jalankan secara spesifik,” ujar Rio ketika dihubungi via WhatsApp (14/11/22).

Ia juga menjelaskan beberapa program kerja dari SEMA Universitas yang ia rasa tidak terlalu mengena seperti apa yang harusnya menjadi tugas dan fungsi mereka.

“Tidak terlalu banyak yang bisa teman-teman lihat di sosial media mereka, hanya semacam ucapan hari besar dan ucapan selamat saja, dan yang sangat kami sayangkan dari teman-teman UKM disaat SEMA Universitas mengadakan demonstrasi terus mengatasnamakan teman-teman UKM tanpa pemberitahuan terlebih dahulu dan membawa nama UKM di pamflet itu padahal teman-teman UKM tidak ada satupun yang tersentuh oleh mereka,” bebernya

Lebih lanjut ia menyatakan bahwa kurangnya koordinasi dengan mahasiswa-mahasiswa di UKM membuat kinerja SEMA dinilai tidak optimal.

“Setidaknya bisa menyentuh semua kalangan organisasi terlebih untuk teman – teman UKM yang saat ini sangat bisa dikatakan cukup nihil koordinasi ke teman-teman yang ada di UKM. Jadi di periode selanjutnya bisa lebih dioptimalkan lagi,” imbuhnya.

Semenjak munculnya pamflet penetapan MUSMA tersebut, timbul spekulasi dari kalangan mahasiswa khususnya mahasiswa dari UKM dan BKM. Diduga bahwa pihak SEMA baru saja menetapkan pelaksanaan MUSMA pada tanggal 23 November nanti dikarenakan sebelumnya banyak desakan dari mereka untuk segera melangsungkan MUSMA, seperti muncul beberapa pamflet beserta opini dari mahasiswa yang berisi gagalnya SEMA Univeristas dalam menjalankan tugasnya.

“Setelah ada beberapa desakan dari teman-teman yang bisa kita katakan dari non UKM dan BKM yang terlebih dahulu ada pergerakan yang mengatasnamakan mahasiswa UIN Mataram untuk segera melakukan MUSMA yang kemudian dilanjutkan oleh teman-teman dari UKM,” ujar Rio

Selain dari UKM, Mahasiswa dari BKM pun ikut angkat bicara terkait penetapan Musma ini karena siftnya yang sangat penting dan merupakan pedoman dalam berorganisasi yang harus dimiliki di setiap universitas yang melibatkan UKM dan BKM seharusnya dilaksanakan di awal periode kepengurusan.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Sema Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Mataram Wahyu

“Mengingat pelaksanaan MUSMA melibatkan seluruh organisasi internal kampus untuk membahas tentang AD/ART BKM dan UKM supaya kedepannya organisasi yang ada di UIN Mataram ini mempunyai landasan yang jelas dalam bergerak,” jelasnya (15/11/22).

Ia mengaku sudah mengkomunikasikan dengan pihak SEMA Universitas terkait pelaksanaan MUSMA agar secepatnya dilakukan namun pada saat itu belum ada kejelasan.

“Saya pribadi sudah tekankan hal itu dari awal, kita ibarat berjalan tapi tanpa landasan yang jelas mangkanya saya tetap komunikasikan ke teman-teman SEMA Universitas tapi belum ada kejelasan,” lanjutnya.

Ia juga menyayangkan tindakan yang diambil oleh Sema universitas terkait penetapan Musma setelah adanya desakan dari berbagai pihak.

“Dikasih tanda ‘X’ dulu baru mereka kerja, itu yang sangat saya sayangkan,” tuturnya

Ia berharap Musma bisa berjalan dengan lancar dan netral dengan mengedepankan kepentingan mahasiswa.

“Yang kita semua harapkan tetap bersikap netral satu sama lain,” tutupnya.

Sementara itu, Sema FDIK Ahnaf Afandi mengatakan bahwa Musma merupakan salah satu kewajiban Sema Universitas yang membahas tentang aturan organisasi.

“Iya memang musma itu iya sudah menjadi salah satu kewajiban sema universitas untuk melaksanakannnya dan itu juga bagian dari salah satu program kerja juga yang harus dan wajib karena nanti disana di bahas tentang bagaimana aturan organisasi dan lain sebagainya di musma itu kan,” tuturnya.

Selain Sema FTK dan FDIK, Tim LPM Ro’yuna juga sudah mencoba menghubungi Ketua Sema FEBI, FUSA dan Fakultas Syariah untuk meminta tanggapan terkait keterlambatan pelaksanaan MUSMA. Namun hingga berita ini dirilis, belum ada tanggapan dari pihak mereka.

Untuk mengkonfirmasi terkait kejelasan penetapan Musma, serta klarifikasi pelaksanaan MUSMA diadakan di akhir periode dan mengkonfirmasi sejauhmana persiapan MUSMA pada tanggal 23 November 2022 nanti, Tim LPM Ro’yuna juga sudah menghubungi Ketua Sema Universitas Hairul Umam dan Ketua KOMISI II SEMA Universitas Hermawan. Namun hingga berita ini dirilis, belum ada tanggapan dari mereka. (LK-JNH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.