Sukses Gelar Dialog Moderasi Beragama, HMPS PAI Hadirkan Tokoh Lintas Agama 

oleh -121 views
Foto kegiatan dialog moderasi beragama di Ruang Sidang Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Mataram

Ro’yuna Redaksi- Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pendidikan Agama Islam (PAI) selanggarakan dialog moderasi beragama dengan mengusung tema “Menanam moderasi, menuai harmoni: Peran strategis Generasi Z Dalam mewujudkan Indonesia Damai” dengan menghadirkan para tokoh lintas agama dan akademisi inspiratif, Kamis, (03/06/25).

Kegiatan yang diselenggarakan di Ruang Sidang Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram mulai pada pukul 08.30 WITA yang langsung dibuka oleh Dekan FTK , Dr. Jumarim, S.Ag. M.H, dan dihadiri oleh ketua program studi PAI serta diikuti oleh puluhan mahasiswa jurusan PAI dan terdapat perwakilan mahasiswa dari beberapa kampus non muslim.

Dalam kegiatan dialog moderasi beragama tersebut menghadirkan lima tokoh agama pertama tokoh Agama Islam Dr. Buya Muhammad Subki Sasaki, MH yang merupakan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) NTB. Kedua tokoh agama Hindu I Nengah Putra Kariana yang pernah menjabat sebagai Pramubhakti Bidang Administrasi penyelenggaraan Bimas Hindu Kota Mataram 2015-2019 dan juga menjadi dosen tetap di Institut Agama Hindu negeri Gde Pudja Mataram.

Tokoh agama ketiga yang menjadi narasumber pada kegiatan dialog moderasi beragama adalah Suwardi, TH yang juga merupakan anggota forum kerukunan umat beragama dari tokoh agama kristen. Tokoh keempat dari tokoh agama katolik Drs. Egenius Siba Mm yang merupakan penyuluh Katolik Kanwil Agama Provinsi NTB dan yang terakhir Up Ajjuna Anggaviro Nasib tokoh agama Budha yang merupakan sekretaris dua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) kabupaten Lombok Barat.

Pada penyampaiannya Dr. Buya Muhammad Subki Sasaki menekankan bahwa moderasi beragama adalah sikap jalan tengah yang memiliki kedudukan yang sangat penting.

“Moderasi beragama itu merupakan alternatif yang harus kita tekankan yang berfokus pada toleransi, keadilan, empati, dan dialog tanpa melemahkan identitas, sehingga penting untuk mencegah konflik dan polarisasi di Indonesia yang majemuk,” ujar Buya.

Sementara itu I Nengah Putra Kariana mengutip ajaran Hindu, “Vasudhaiva Kutumbakam” yang memiliki makna tersendiri seluruh yakni dunia adalah satu keluarga.

“Dalam susastra hindu, kita diajarkan untuk menghormati keberagaman dan hidup berdampingan secara damai,” sambung I Nengah putra Kariana.

Sejalan dengan perspektif yang disampaikan oleh, Drs. Egenius Siba, MM sebagai pemeluk agama katolik, menyampaikan moderasi beragama adalah sikap adil, seimbang, dan terbuka, serta menghargai iman orang lain. Gereja katolik menekankan solidaritas, persaudaraan universal, dan menolak eksklusivisme.

Para narasumber sepakat bahwa Generasi Z memiliki peran strategis dalam menyebarkan nilai-nilai moderasi melalui literasi digital, dialog lintas identitas, dan keterlibatan aktif di komunitas.

Yati/July

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.