,

Sembilan Bulan Berjuang, Mahasiswa UIN Mataram Tetap Hadiri Wisuda

oleh -48 views
oleh

Ro’yuna Redaksi – Mahasiswa UIN Mataram Baiq Zuwina Angela Putri, dari Program Studi Perbankan Syariah, berhasil menyelesaikan studinya di tengah kondisi tubuhnya yang tidak stabil.

Zuwina mulai mengalami kondisi tubuh yang tiba-tiba lemas hingga akhirnya harus menjalani pengobatan selama sekitar sembilan bulan. Tiga bulan setelah kondisinya semakin parah, Zuwina memutuskan untuk menjalani pemeriksaan ke rumah sakit. Setelah melalui sejumlah pemeriksaan dan sekitar sembilan kali ultrasonografi (USG) serta berpindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya, ia mendapat diagnosis infeksi pada otak dan kondisi kronis pada lambung yang membuatnya kesulitan menerima makanan dan minuman.

Selama menjalani sakit, berat badannya turun sekitar 15 kilogram. Ia juga harus mengonsumsi obat setiap hari dengan jumlah yang disebut mencapai 28 butir. Meski kondisi kesehatan terus menurun, Zuwina menyampaikan tetap berusaha menyelesaikan pendidikan. Ia bahkan berhasil menyelesaikan skripsinya dalam waktu sekitar dua minggu setelah seminar proposal.

“Setelah sempro, lanjut ke skripsi. Alhamdulillah cepat dan dipermudah. Orang lain mengerjakan selama dua atau tiga bulan, alhamdulillah saya bisa selesai dalam waktu dua minggu,” ujarnya.

Namun, setelah menyelesaikan skripsi, kondisi kesehatannya semakin memburuk. Ia sempat tidak sadarkan diri selama beberapa waktu hingga harus berkomunikasi dengan keluarga menggunakan bahasa isyarat.

Di tengah kondisi tersebut, Zuwina tetap berusaha mempertahankan fokus pada akademiknya. Perjuangannya membuahkan hasil dengan meraih predikat terbaik utama di tingkat program studi dan terbaik kedua di tingkat fakultas.

Menurutnya, tantangan terbesar selama menjalani masa sakit bukan lagi persoalan akademik, melainkan kondisi pikiran. Rasa takut dan kekhawatiran terhadap kondisi kesehatan sempat menjadi beban tersendiri.

“Yang paling berat itu pikiran. Skripsi sudah selesai, jadi tidak ada beban lagi. Cuma pikiran yang belum tenang karena selalu kepikiran dan dihantui rasa takut,” tuturnya.

Sempat tidak menyangka dapat mengikuti prosesi wisuda, Zuwina akhirnya bisa hadir dengan bantuan teman yang membantunya dalam proses pendaftaran hingga persiapan wisuda.

“Alhamdulillah, kayak enggak nyangka. Karena sakit, sebenarnya enggak nyangka bisa ikut. Intinya bahagia banget,” katanya.

Bagi Zuwina, dapat mengikuti yudisium dan wisuda menjadi salah satu hal yang paling ia harapkan setelah melewati masa pengobatan yang panjang.

“Yang penting saya sudah ikut yudisium dan wisuda, sudah itu saja,” ujarnya.

Di akhir, Zuwina menyampaikan pesan kepada mahasiswa yang masih menempuh pendidikan agar tidak takut memiliki mimpi dan terus berusaha memberikan yang terbaik.

“Jangan takut untuk bermimpi. Kita bebas untuk bermimpi. Kita bisa, intinya kita sudah melakukan hal terbaik untuk diri kita. You can do it,” pesannya.

Liana/Mia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.