Peluh Yang Larut Bersama Arus

oleh -34 views
Riana seorang pendayung di sungai

Matahari belum menyibakkan cahayanya, angin bertiup perlahan, tetesan embun pagi yang perlahan merasuki pori-pori. Bapak Riana asal Paok Gading, Kecamatan Narmada pada pukul enam pagi tampak bersemangat mendorong angkongnya ke tepian sungai dengan suasasana masih terlihat gelap. Tanpa kepastian, apakah hasil dari kerukan pasirnya hari itu dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Tak terasa air keringat bercucuran membasahi sekujur tubuhnya yang mungil, dengan tangan yang tak henti mengais butiran pasir didalam sungai.

Di tengah arus yang dingin dan keruh, tubuh mungilnya itu turun perlahan ke dalam air, ia menyelam hingga dasar sungai demi mengeruk pasir yang kelak dijual untuk menyambung hidupnya. Terdengar begitu nyaring ayunan sekop dan ember yang terangkat ke perahu ia lah sebuah peluh yang larut bersama arus, sunyi, berat, namun terus dijalani dari hari ke hari. Di sungai itu, waktu seperti berjalan tidak searah. Tak ada jam digital, tak ada ruang ber AC, serta tak ada kasur yang empuk tempat orang mengeluh kelelahan. Yang ada hanyalah suara air yang menderu kencang dan peluh yang menetes perlahan dari pelipis dahi sampai ke kerah baju yang telah lama kehilangan warna aslinya.

Sejak berusia 16 tahun sungai telah menjadi bagian dari hidupnya. Pasir yang ia angkut berasal dari tanah milik pemerintah daerah, hasilnya lalu dijual kepada pembeli dengan harga sekitar Rp 350.000 per dam. Nilainya mungkin terlihat biasa tetapi bagi dirinya setiap dam pasir adalah hasil tenaga, kesabaran dan perjuangan panjang. Bagian paling berat bukan saat menggali pasir, melainkan ia harus mendorong muatan penuh naik ke kendaraan. Disitulah tenaga benar-benar diuji. Napas mulai tersengal, Pundak mulai menegang dan tangan kasar bertabur parut kehidupan menjadi saksi betapa kerasnya pekerjaan itu. Namun baginya, rasa lelah bukan lagi sesuatu yang harus dikeluhkan, Karena sudah menjadi teman yang berjalan bersamanya setiap hari.

Tak ada kemewahan dalam pekerjaannya, hanya tubuh yang terus dipaksa untuk kuat. Matahari yang tak pernah lelah membakar kulit dan arus sungai yang kadang datang membawa ancaman. Meski demikian, ada satu hal yang tak pernah bisa ia lawan yaitu naiknya debit air sungai. Ketika air sungai mulai meninggi seluruh aktivitas harus dihentikan. Sungai yang biasanya menjadi sumber kehidupan seketika berubah menjadi batas yang tak dapat di terobos.

“ Kalo air naik, kami berhenti kerja sampai airnya turun. Kalo tidak turun-turun, ya pulang,” Tuturnya.

Di balik pekerjaan yang mengandalkan kekuatan fisik, tersimpan harapan sederhana seorang ayah. Dari hasil mengangkat pasir, Bapak Riana mampu memperoleh penghasilan lebih dari Rp2 juta setiap minggu. Uang itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, membiayai sekolah anak, dan menyisihkan sedikit untuk masa depan.

Kini ia hidup bersama istri dan seorang anak yang duduk di kelas 3 SMP. Di balik wajahnya yang lelah karena diterpa panas dan dinginnya sungai, tersimpan mimpi besar yang terus ia jaga: melihat anaknya berhasil meraih pendidikan tinggi dan memiliki kehidupan yang lebih baik darinya.

“Semoga anak saya bisa sukses sampai kuliah,” Tuturnya.

Bapak Riana pernah mencoba mencari pekerjaan lain. Namun pada akhirnya, ia tetap kembali ke sungai. Baginya, pekerjaan mengangkat pasir adalah pekerjaan yang paling mudah dilakukan dan menurutnya tidak terlalu berisiko, meski harus dibayar dengan tenaga dan peluh setiap hari.

“Pekerjaan ini saja, semoga selalu sehat,” tutupnya.

Hari demi hari terus berlalu. Sungai tetap mengalir, begitu pula perjuangan hidupnya. Di tengah derasnya arus dan beratnya beban kehidupan, Bapak Riana memilih untuk tetap bertahan. Sebab baginya, selama tubuh masih sehat dan tangan masih mampu mengais pasir, harapan akan selalu hidup bersama derasnya aliran sungai.

Kelompok 6

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.