Kisah Hangat Warung Kecil Di Tepi Danau

oleh -28 views
Warung yang berjejer di halaman Gunung Jae

Sore itu langit tampak menangis, seakan ikut menyimpan kesedihan. Namun, di samping itu terlihat raut wajah bahagia penuh senyuman dari sosok perempuan tangguh yang tidak mengenal lelah demi keluarganya. Aroma tanah basah masih terasa kuat di bawah pohon rindang yang berdiri diam di tepi danau. Suasananya begitu sunyi, seolah waktu berjalan lebih lambat. Rintik hujan yang tersisa jatuh perlahan dari ujung daun, menciptakan suara kecil yang menyatu dengan tenangnya air danau. Beberapa menit kemudian terdengar syahdu suara azan berkumandang, menandakan waktu salat magrib telah tiba.

Di tengah ramainya pengunjung yang berlalu-lalang untuk melaksanakan ibadah shalat, terlihat masih ada beberapa orang yang singgah membeli secangkir kopi hangat di salah satu deretan warung yang tersedia di area wisata. Dengan raut wajah teduh dan senyuman manis penuh kasih, sosok Ibu Masrah, perempuan berusia sekitar 30 tahun itu, tampak melayani para pelanggannya. Tangannya terlihat lihai menuangkan kopi dengan penuh ketulusan, sementara sapaan ramah tak pernah lepas dari bibirnya, berharap setiap pelanggan merasa nyaman dengan suasana sederhana warung miliknya.

Di balik kesederhanaan warung kecil itu, Ibu Masrah menyimpan harapan agar dagangannya tetap mampu bertahan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari. Hebatnya, di antara deretan para pedagang, rasa ingin saling “bersaing” seolah tidak berlaku bagi mereka. Kebersamaan justru menjadi hal yang paling dijaga. Bagi mereka, mencari rezeki bukan tentang persaingan ataupun siapa yang paling laris, melainkan tentang saling membantu dan tetap berusaha bersama, karena mereka percaya bahwa setiap rezeki sudah ada yang mengatur.

“Tidak ada persaingan, karena semua rezeki sudah ada yang atur,” Tutur Ibu Masrah lembut.

Ucapan itu terdengar hangat di tengah dinginnya tiupan angin yang menemani gelap awan kala itu. Beralaskan tikar sederhana, ditemani keluarga dan suara tawa yang diiringi nyanyian dari sudut tempat wisata, suasana malam terasa begitu damai. Anak-anak pengunjung asyik bermain dan bercanda ria bersama pengunjung dewasa yang bahkan baru saling mengenal. Tawa mereka terdengar sangat menyenangkan, seolah tidak ada rasa canggung di antara mereka. Anak-anak berlarian ke sana kemari dengan para pengunjung dewasa yang saling mengejar dari belakang.

Di tengah hangatnya suasana kala itu, Lia selaku pedagang yang sudah dua tahun lamanya bergelut di tempat wisata itu. Ia selalu tersenyum ramah kepada para pembeli, berbincang-bincang ringan sambil menyiapkan pesanan. Baginya, keramahan sederhana mampu membuat para pengunjung merasa senang dan nyaman saat singgah di warung kecil miliknya.

Kelompok 3

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.