RO'YUNA REDAKSI

Kau berdoa menghadap timur, aku menunduk ke arah barat. Namun di antara arah yang berbeda itu, ada langit yang sama, menatap kita dalam diam. Kau memanggil nama Tuhanmu dengan lantunan

Di sela debu yang menari di jendela, kudapati laut memungut bayang-bayang… setiap ombak adalah jarum jam yang menjahit tepian kenangan. Aku ingin menyelam ke dasar pasir waktu, menggenggam butir-butir rindu

Kehadiranmu seperti semburat cahaya hangat, Yang kini mendekap isi hatiku.. Namun juga seperti hujan yang datang, Lalu pergi meninggalkan sisa genangannya Luka itu seakan menggerogoti jiwaku, Hangatmu sudah lenyap Berubah

Hanya ada dinding tawa yang tak seindah dulu iramanya, terdengar sumbang walau cantik pesonanya… Tak seelok dulu rupanya, cantik rupawan lentik pula matanya, tak bisa menapik air mata yang gugur

Tidak Ada Postingan Lagi.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.