Mari Ganti Dema UIN Mataram dengan Cangkir Kopi

oleh -95 views

Awin Azhari

Penulis adalah Mahasiswa KPI FDIK semester banyak.

Makin sering rupanya orang-orang di media sosial mengaku sebagai Presiden Mahasiswa UIN Mataram dan Sekretaris Jendral bla bla bla. Mudah memang mangaku diri presiden di kampus negeri keislaman terbesar di NTB ini, sebab memang kehadirannya tidak begitu diketahui. Tapi mari kita lihat gagasan apa yang sudah diberikan, kepada rakyat (mahasiswa) atau atasannya.

Lalau saya ketik “Dema UIN Mataram” dari mesin pencarian Google, yang pertama muncul adalah berita protes menuntut Senat dan Dewan Mahasiswa dicopot. Bahakan di laman resmi Universitas, tidak terdapat berita pengangkatan Sema dan Dema. Humas biasanya mengatur laman resmi agar berisi berita penting.

Sudah berapa konsolidasi, dan seruan aksi yang didengungkan Dema UIN Mataram sepertinya tidak membuat para mahasiswa bergeming. Alih-alih serentak mendukung, ada saja hate speech di bawah poster seruan aksi yang mereka posting di media sosial. Puncaknya saat isu UKT dan wisuda online mulai naik. Biasanya seruan dan kekecewaan seperti ini akan berlalu begitu saja, tapi tidak ada salahnya mengulas kenapa mahasiswa UIN Mataram sebaiknya mengganti Sema dan Dema UIN Mataram dengan cangkir kopi.

Bermula dari sistem pemilihan

Sistem pemilihan melalui perwakilan. Terasa kembali pada masa lalu, ketika pemimpin dipilih oleh lembaga tertentu. Pemilihan perwakilan dimulai dari pemilihan Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan atau Himpunan Mahasiswa Program Studi. Setiap kelas dari setiap prodi akan dipilih dua orang untuk memilih calon ketua dan wakil yang sudah mendaftar. Ketua dan wakil Ketua ini yang nantinya memilih Ketua Dema tingkat fakultas selanjutnya sampai universitas.

Masalahnnya mulai ada ditingkat jurusan atau prodi. HMJ rupanya bingung dengan tugas dan fungsinya. Seandainya ada permasalahan ditingkat jurusan, mahasiswa bisa langsung menemui Ketua Jurusan untuk curhat atau meminta syafaat. Secara struktur, entah dimana fungsi HMJ.

Tapi HMJ, Sema dan Dema masih berguna untuk membuat seremonial ulang tahun jurusan, menjadi panitia PBAK, dan menjadi seksi konsumsi Stadium General Fakultas. Mereka inilah yang seolah dipercaya mengemban amanat memilih Dewan Mahasiswa pada tingkat universitas.

Seandainya saya pemimpin organisasi mahasiswa di luar kampus, setiap kader saya akan saya atur untuk menjadi koordinator mahasiswa dari kelasnya. Jadi sewaktu pemilihan hanya golongan saya saja yang berdiri. Sayangnya ide ini belum ada yang menggunakan di wilayah kampus.

Pemilihan secara perwakilan memang sesuai dengan Keputusan Dirjen Pendidikan Islam Nomor 4961 Tahun 2016 Tentang Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan pada Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI). Tapi minimal ada perayaan pelantikan yang diketahui semua mahasiswa agar kenal kita dengan sosok gagah berani yang rela mengorbankan kuliah, dan waktu demi menyampaikan aspirasi mahasiswa banyak. Maunya gitu…

Jangankan visi dan misi, bahkan seandainya kamu berpapasan dengan Ketua Dema UIN Mataram, kamu bisa saja tidak sadar bahwa orang di depanmu adalah mahasiswa yang di pundaknya ada beban berat perjuangan. Mirip seperti kisah Sahabat Nabi yang tidak terkenal oleh warganya, bedanya mungkin dari segi manfaat.

Misal pada kasus UKM, atau Unit Kegiatan Mahasiswa. Dema memiliki fungsi kontrol untuk kegiatan UKM di Universitas. Jika ditelusuri lagi, bahkan pada daftar tamu undangan dan daftar tanda tangan, UKM tidak mencantumkan Dema atau Sema. Seperti apa fungsi kontrol yang dijalani, jika setiap UKM melakukan konsultasi secara langsung kepada Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan.

Setiap ada permasalahan tingkat jurusan sampai universitas, narasi yang dibangun lembaga adalah diselesaikan dengan duduk bersama. Itulah mengapa sebaiknya Sema dan Dema kita ganti saja dengan cangkir kopi yang ternyata lebih bermanfaat untuk duduk bersama. (Ro’yuna. Win)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.