Hari itu hujan turun dengan derasnya, langit gelap gulita dihiasi kilatan cahaya di berbagai penjuru. Keadaannya benar-benar mewakili perasaanku kala itu dan menjadi saksi bisu bahwa aku harus menerima kegagalan untuk kesekian kalinya.
Aku berdiri menatap gedung fakultas dengan perasaan yang entah gundah gulana, meratapi nasibku sebagai mahasiswa semester akhir yang harus bersahabat dengan tugas akhir yang biasa disebut “skripsi”. Kedua mataku menilik sekumpulan kertas yang ada di genggamanku dan telah menjadi beban hidupku selama beberapa bulan terakhir ini. Ingin rasanya aku menangis berteriak sekencang-kencangnya dan merobek semua kertas-kertas ini. Namun sia-sia saja, aku menghabiskan waktu, pikiran, tenaga, jiwa dan ragaku untuk mengejar target agar bisa lulus dalam 3,5 tahun.
Sebelumnya imajinasiku tentang dunia perkuliahan benar-benar indah, bahkan aku tidak pernah membayangkan bahwa dunia perkuliahan akan serumit ini. Aku kira kuliah seperti yang ada di film-film. Punya banyak teman, pergi jalan-jalan, mengerjakan tugas bersama, namun ternyata? Aku terjebak dalam kesepian, berjalan bersama bayangan semu belaka.
“Fase terbaik dalam kehidupan adalah masa SMA”. Ungkapan tersebut terngiang-ngiang dikepalaku. Awalnya aku tidak begitu yakin, tapi ketika aku telah meninggalkan fase tersebut, aku setuju dengan pernyataan itu. Aku tidak tahu alasannya, tapi aku benar-benar merindukan masa itu. Masa dimana aku bebas menjadi diri sendiri, memiliki banyak teman, memiliki sahabat yang bisa dijadikan tempat bersandar, dan bebas mengekspresikan diriku.
Ketika masih SMA, aku dan teman-teman ku tanpa lelah membahas dan membayangkan segala hal menarik yang ada di dunia perkuliahan. Bahkan kami berencana akan mendaftar di satu kampus yang sama, kami akan terus bertemu, bermain bersama, dan tidak akan saling melupakan.
Sudut bibirku sedikit tertarik ke atas. Aku tersenyum kecut mengingat semua kenangan itu.
Hati kecilku menangis, memberontak ingin kembali ke masa itu. Aku rindu diriku yang dulu, aku rindu teman-temanku, aku rindu bebas melakukan apapun tanpa takut menjadi bahan perbincangan setelahnya.
Aku adalah seseorang yang selalu bersikap optimis terhadap hal-hal yang aku percaya. Awal masuk kuliah aku berkenalan dengan banyak orang dan menunjukkan diriku bahwa aku adalah seorang yang mudah bergaul dan asik. Aku berusaha mengenal lebih dekat teman-teman kelasku dan mencoba ngobrol ringan dengan mereka untuk mengakrabkan diri.
Waktu terus berjalan, semakin lama aku merasa berbeda dan ada yang salah disini. Aku merasa bahwa diriku kini sangat sulit untuk lebih dekat dengan mereka, ditambah lagi melihat mereka yang sudah mulai memiliki kubu masing-masing dalam bergaul. Dalam hati aku bertanya pada diri sendiri “kenapa mereka cepat sekali menemukan teman dekat? Tapi kenapa aku masih sendiri? apakah ada yang salah denganku?” Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku dalam waktu yang cukup lama. Bahkan, tak jarang aku mencoba mendekatkan diri dengan mereka,tapi hasilnya aku merasa itu adalah hal yang sia-sia, pada akhirnya aku sendiri.
Aku merasa pertemanan di dunia perkuliahan itu hanya formalitas semata. Tidak ada yang benar-benar berteman, tidak ada yang benar-benar bisa menerima kamu.
Aku heran dengan diriku sendiri, ketika masa SMA aku mengenal begitu banyak orang tanpa harus canggung untuk berkenalan. Bahkan, ketika aku bertanya pada teman-teman SMA ku “kalian percaya nggak kalo saya nggak punya temen di kampus” mendengar pertanyaan itu, mereka justru tertawa dan menjawab “mana mungkin kamu nggak punya teman, sedangkan di SMA hampir satu sekolah kamu kenal”. Aku hanya diam mendengar pernyataan itu. Aku seasik itu dulu, tapi lihat sekarang, bahkan untuk memiliki 1 teman dekat di kampus saja sudah sangat sulit bagiku.
Sendiri itu bukan hal yang memalukan. Sendiri itu bukan hal yang salah. Aku mencoba berdamai dengan diri sendiri dan menerima kenyataan bahwa dunia perkuliahan berbanding terbalik dengan apa yang di bayangkan.
Untuk mensiasati rasa kesepianku, aku memutuskan untuk mengikuti beberapa organisasi yang membuatku mengenal banyak orang, dan siapa tau bisa dekat dengan mereka. Yah… Walaupun tidak bisa jadi teman dekat setidaknya aku punya teman akrab di kampus dan ada kenangan yang akan aku bawa pergi.
Aku tidak pernah menyesal diterima di kampus dan jurusan ini. Toh, ini jurusan yang aku inginkan dari dulu. Tapi yang membuat aku kecewa pada diri sendiri adalah, ternyata aku tidak seasik dulu.
Lagipula, sebentar lagi aku akan lulus dari sini, secepatnya aku akan selesaikan tugas akhirku dan berkelana jauh mencari pengalaman baru yang membuatku terus belajar dan menggali potensi ku. Aku bahagia bisa mengenal banyak orang baik disini, melakukan banyak kegiatan bersama teman-teman organisasiku dan memiliki teman kelas yang tidak pernah berbuat buruk kepadaku. (Fia)




