Itu Urusanmu, Bukan Urusanku

oleh -51 views

Hidup menjadi seorang mahasiswa di zaman ini mungkin bukanlah satu hal yang istimewa, bukan dianggap orang paling pintar, bukan juga dianggap anak orang kaya, sebab siapapun boleh dan bisa menjadi mahasiswa.

Namun tidak semua mahasiswa paham dan sadar akan tugasnya selain belajar di dalam ruang kelas, meskipun menjadi mahasiswa bukan hal yang istimewa saat ini, namun pandangan masyarakat terhadap kaum intelektual seperti mahasiswa tidak pernah berubah. Masyarakat selalu berharap kepada mahasiswa bahwa nanti nya mereka akan memberi perubahan di lingkungannya, menjadi agen kontrol masyarakat terhadap pemerintah, yang kebijakannya kerap dianggap merugikan rakyatnya.

Hari ini seperti biasa aku menyusuri jalan di dalam kampus, menuju ruang kelas untuk kuliah. Namun, ada pemandangan yang sedikit berbeda hari ini di halaman parkiran kampus. Banyak mahasiswa yang berkumpul, aku melihat kawan-kawanku banyak juga yang berkumpul disana, dalam hatiku bertanya “ini ada apa, kok tumben rame, mana ada yang bawa speaker juga?”.

Melihat Adi kawan satu kelas denganku, dengan almamater dan ikat kepalanya, lalu aku menghampirinya “Di, ini ada apa?, kok rame?” tanyaku ke Adi, Ia nampak heran kok aku bertanya seperti itu, “Memangnya kamu tidak tahu ya, kalo negara kita sedang tidak baik-baik saja?” jawab Adi dengan nada heran.

Wajar saja kalo Adi terlihat heran ketika aku bertanya demikian, secara seharusnya aku sebagai mahasiswa tau isu-isu hangat yang ada di negara ini, apalagi isu itu terkait kemaslahatan rakyat. “Hah, maksudnya, negara kita lagi perang ya?” tanyaku ke Adi.

Lalu Adi menepuk bahuku dan menjelaskan “Jadi begini Jo, pemerintah kemarin sudah mengeluarkan kebijakan yang merugikan rakyat, pemerintah menaikkan harga BBM”, jelas Adi. “Ohh yang itu, kalo itu aku tau Di, tapi kan naiknya nggak seberapa, cuma Rp. 3.000”, jawabku ke Adi. “Memang naiknya tidak banyak, tapi itu akan berpengaruh ke sektor yang lain, harga bahan pokok bisa naik, tarif angkutan bisa naik bahkan mungkin harga sabun mandi kamu juga akan naik”, jawab Adi kembali.

“Sekarang kalian mau kemana?” …”ya kita mau demo di depan gedung DPRD, kita sebagai mahasiswa harus bisa memperjuangkan hak-hak rakyat yang lemah”, ucap Adi.

“Ahh,,,,nggak Di, aku takut kalo bolos kuliah demi demo, nanti nggak lulus lagi”…”kamu egois ternyata jo, memikirkan nasib sendiri, tidak mau memikirkan nasib rakyat” Jawab Adi sembari meninggalkan saya. “Itu kan urusanmu, bukan urusanku” jawabku ke Adi sambil meninggalkan kerumunan itu.

Aku berjalan masuk ke Fakultas mencari ruangan tempatku kuliah, tanpa memikirkan perkataan Adi sebelumnya yang berkata aku itu egois. Aku kemudian masuk ke ruangan sesuai yang ada di jadwal. Rupanya di kelas hanya ada 5 mahasiswa, aku hanya sendiri cowok yang 4 cewek semua, padahal di kelasku ada 40 mahasiswa, tapi hari ini hanya ada 5. Aku berjalan mengambil kursi paling belakang dan pojok, aku teringat kalimat Adi yang mengatakan kalau aku egois, memikirkan diri sendiri.

Dalam pikiran-pikiranku, aku terus memikirkan kalimat Adi, “Apa gunanya aku menjadi mahasiswa kalau tidak bisa membela rakyat”…..”Apa gunanya kuliah, saat rakyat membutuhkan aku malah sibuk dengan urusanku sendiri”….” Aku memang egois memikirkan nasib sendiri”, aku terus bergumam dalam hati.

Dalam lamunanku yang memikirkan kalimat Adi, tiba-tiba Handpohne ku berbunyi ada pesan yang masuk, lalu ku buka ternyata pesan grup, dosen yang harusnya mengajar hari ini tidak masuk dalam pesan yang dikirimkannya “ Mahasiswa yang bapak banggakan, hari ini bapak tidak masuk, silahkan jam kosong ini kalian manfaatkan untuk memperjuangkan nasib rakyat. Tetap hati-hati, jangan anarkis”, aku kembali tersadar bahwa kuliah di dalam kelas itu tiada artinya kalau hanya untuk kepentingan diri sendiri.

“Sudahlah, berhenti memikirkan keegoisanku, masih ada waktu untuk berjuang”, cetusku dalam hati.

Aku berlari keluar ruangan, sembari menyingsing lengan baju dan bergabung dengan mahasiswa yang akan aksi.

Jika suatu hari nanti ada keluagaku yang menjadi mahasiswa, akan ku titipkan satu pesan kepada mereka “Menjadi mahasiswa itu jalan takdir, tapi memilih berjuang untuk rakyat adalah pilihan. Kamu boleh belajar dengan tekun, tapi saat rakyat memanggil, gunakan pikiranmu untuk berjuang bersama rakyat”, ucapku dalam hati sambil berjalan menuju titik aksi di gedung DPRD. (RF Yunanda)

One thought on “Itu Urusanmu, Bukan Urusanku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.