Awan tebal menyelimuti permukaan langit yang menangis membasahi bumi, aroma tanah menyusup ke lubang hidung yang disertai aroma sate ayam yang sedang di bakar oleh bapak pemilik warung di samping barugak yang teduh.
Pada hari yang penuh warna warni kami melaksanakan camp jurnalistik di salah satu wiasata alam yang populer di pulau Lombok yaitu Gunung Jae yang terletak di pedalaman Narmada tepatnya di Dusun Paok gading, Desa Sedau, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (16/05).
Bendungan yang memiliki panorama alam begitu menawan, memanjakan mata setiap insan yang menikmatinya. Setiap pekan pengunjung berdatangan untuk menikmati keindahan. Keindahan alam yang di tawarkan kerap kali menjadi tempat pelarian dari hiruk pikuknya peradaban kota.
Di sekeliling bendungan, berjejer pohon besar yang meneduhi pengunjung yang datang. Persawahan dan perkebunan warga mengelilingi tempat tersebut dengah ciri khasnya tersendiri, danau yang luas menyajikan pemandangan Air yang mengkilat di guyur hujan deras akan tetapi alam tetap menampilkan dirinya yang elok.
Pelestarian alam Gunung Jae merupakan tangggung jawab dan langkah strategis bagi pemerintah Desa dan masyarakat agar tetap memberikan manfaat yang berkelanjutan. Menurut penjelasan Bapak Sukarmin salah satu anggota Badan Permusawaratan Desa (BPD) bahwa air yang ada di bendungan Gunung Jae dapat di nikmati oleh masyarakat Lombok tengah untuk mengairi kebun dan persawahan.
Hal ini menunjukkan bahwa destinasi wisata alam Gunung Jae bukan hanya sebagai tempat wisata dan keindahan saja, akan tetapi juga menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat.
“Ada di satu Dusun yang mengunakan air bendungan ini, dulu ada kebun kan kemudian di aliri dengan air dari bendungan ini sehingga di ubah menjadi sawah,” tuturnya.
Pak Sukarmin melanjutkan ucapannya semabari di iringi ritikan air hujan yang amat deras sehingga sesekali menyamarkan suaranya. Kami dengan santun menyimak cerita tersebut sembari menikmati pisang goreng.
“Sekarang yang merasakan dampaknya adalah masyarakat Lombok Tengah, termasuk Batu Jai dan Kopang,” sambung Bapak yang sudah berusia senja tersebut.
Alam tidak pernah bertanya siapakah yang datang, tetapi selalu memberi pelajaran dan manfaat kepada siapapun yang ingin bertamu dan menikmatinya.
Kelompok 5








