Goa Lawah Destinasi Lokal yang Gak Cuma Estetik tapi Berarti

oleh -122 views
Foto Gua Lawah Desa Lebah Sempage, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat

Di balik rindangnya pepohonan dan udara segar khas pegunungan Desa Lembah Sempage, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Tengah, terdapat sebuah destinasi alam yang tengah menjadi incaran para petualang muda—Goa Lawah. Tempat ini bukan sekadar lokasi berkemah atau pemandian air terjun biasa, melainkan titik temu antara sejarah, alam, dan semangat warga desa.
Meski terdengar seperti wisata baru yang viral belakangan ini di media sosial, Goa Lawah sesungguhnya memiliki perjalanan panjang yang tak banyak diketahui.
“Sebenarnya Goa Lawah itu udah lama ada, sekitar lima-enam tahun lalu. Awalnya dikelola oleh remaja di desa sini, tapi karena kurang hasil, akhirnya sekitar dua tahun terakhir diambil alih oleh orang tua kita,” ungkap Ian/Ramzan, mahasiswa Unram sekaligus anggota aktif Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata).

Sejak 2023, para tokoh masyarakat desa memutuskan untuk turun tangan langsung mengelola wisata ini. Pemerintah belum banyak terlibat dalam sisi pendanaan, namun mereka turut berkontribusi lewat pelatihan bagaimana cara melayani tamu, membangun homestay berbasis masyarakat, dan meningkatkan kualitas pelayanan wisata.
Yang unik dari Goa Lawah adalah sistem pengelolaannya. Tidak ada aliran dana pemerintah yang masuk ke sini. Segala kebutuhan mulai dari bayar listrik, beli sabun, sampai membangun toilet—semuanya berasal dari uang tiket para pengunjung.
“Semua murni dari sini, dari enam orang Pokdarwis yang aktif,” ujar Ian bangga.

Bahkan sebelum menjadi tempat yang estetik seperti sekarang, area ini dulunya hanyalah kebun biasa. Jalan setapak pun dipenuhi rumput liar. Barulah setelah diambil alih oleh para orang tua, secara bertahap dibangun spot camping, jalur tracking, hingga fasilitas pendukung lainnya.

Cerita asal mula Goa Lawah tidak kalah epik dari keindahan alamnya. Menurut Ian, dulunya area ini milik seorang nenek bernama Papuk Nurinah. Suatu hari ia turun ke lembah mencari pakis, dan tak sengaja menemukan sebuah gua. Cerita ini kemudian ia sampaikan kepada anaknya, Papuk Ari, yang baru percaya setelah diajak langsung ke sana.
“Papuk Nurinah itu dulu turun pakai tali seadanya, bukan kayak sekarang. Dulu banyak ular, jadi nggak lama dia di dalam. Tapi dia yakin, gua ini spesial,” cerita Ian.

Menurut kisah turun-temurun, gua ini pernah menjadi tempat persembunyian tentara Jepang. Bahkan ada kepercayaan bahwa lewat gua ini, bisa ‘tembus sampai Bali’—bukan secara fisik, tapi secara spiritual lewat semedi. Dari sinilah muncul filosofi Goa Lawah sebagai tempat penuh makna dan misteri.
Nama Goa Lawah sendiri berasal dari bahasa Sasak, yang berarti gua kelelawar. Di dalamnya memang banyak kelelawar bergelantungan, menambah nuansa eksotis sekaligus mistis. Meski sempat diubah jadi Goa Jepang oleh pihak luar, masyarakat menolaknya dan mengembalikan ke nama asli mereka: Goa Lawah.

Dulu, jika seseorang mengatakan mereka berasal dari Lembah Sempage, orang akan membalas dengan, “Gawah?” (gawah = sawah atau hutan, dalam konotasi negatif). Kini, nama Lembah Sempage justru identik dengan spot camping kece, gua alami, dan air terjun yang menyegarkan.
“Kami ingin mengubah image buruk jadi kebanggaan. Sekarang orang bilang ‘oh itu loh, Lembah Sempage yang ada goanya!’,” ujar Ian.

Tak semua hal berjalan mulus. Di awal, masyarakat sempat ragu dengan rencana membangun wisata ini. Ada ketakutan akan jadi tempat ‘negatif’. Namun kini, tempat ini justru digunakan untuk kegiatan positif: tempat mengaji, berkumpul, hingga edukasi.
“Kami juga tegas. Misalnya ada yang mau camping berdua sama pacarnya, walaupun dibayar 100 ribu per malam, tetap kami tolak,” tegas Ian. “Apapun yang kita lakukan, intinya sabar dan tekun.”

Goa Lawah juga punya impian besar, menjadi jalur pendakian resmi menuju Gunung Rinjani.

Kini, setiap akhir pekan Goa Lawah ramai oleh tenda-tenda warna-warni dari para petualang muda. Beberapa mencoba masuk ke gua, beberapa berendam di air terjun, dan lainnya sekadar menikmati embusan angin segar dari sela-sela pepohonan.
Tapi tidak semua boleh sembarangan menjelajah. Di dalam gua, hanya dua pintu yang ditemukan. Pintu pertama masih aman, tapi pintu kedua kekurangan oksigen belum bisa dijelajahi lebih jauh.
“Jalan masuknya cuma muat satu orang, tapi di dalam bisa muat seribu orang,” ungkap Ian sambil tertawa kecil.

Waktu pembangunan tempat ini? Tidak bisa diukur.
Goa Lawah bukan sekadar wisata, tapi bukti nyata bagaimana sebuah komunitas bisa mengubah nasib desanya sendiri dengan tangan mereka sendiri.
Jadi, jika kamu ingin merasakan petualangan yang sarat makna, tidak jauh dari pusat kota, dengan harga terjangkau, dan pastinya penuh kehangatan lokal Goa Lawah adalah jawabannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.