Di Balik Angin Gunung Jae: Pancoran Suci dan Harmoni Tradisi Gunung Aur

oleh -32 views
Pancoran air yang terletak di Gunung Jae

Saat kami tiba dan memulai obrolan, hujan turun cukup deras membasahi seluruh kawasan Gunung Jae. Udara terasa sangat dingin, lembap, dan langit tampak benar-benar mendung kelabu tak ada seberkas sinar matahari pun yang mampu menembus. Di tengah rintik air yang jatuh berirama, hamparan danau di depan kami tampak tenang namun berwarna kelabu gelap, seirama dengan suasana alam di sekelilingnya. Pepohonan hijau berdiri kokoh menahan butiran air, seolah menjadi saksi bisu setiap kata yang terucap.Di sini, alam seolah memiliki caranya sendiri untuk mematikan riuh rendah duniawi, meninggalkan keteduhan yang mendamaikan hati siapa saja yang datang berkunjung.

Di sela-sela suara hujan itulah, kami berbincang dengan dua narasumber sekaligus. Ada Bapak Sukarni, anggota BPD desa, dan Ibu Pengelola tempat wisata Gunung Jae. Dari mereka berdua kami mengenal pesona kawasan ini lebih dalam, serta sisi istimewa dari tetangganya, Gunung Aur. Melalui tutur kata keduanya, kami seolah dibawa masuk ke dalam dimensi yang berbeda; sebuah ruang di mana kemajuan zaman berjalan beriringan dengan tradisi leluhur yang masih dijaga ketat dan hidup dalam keseharian masyarakatnya.

Meski berada di bawah kaki rangkaian gunung yang sama, kedua tempat ini ternyata menyimpan karakter budaya yang hampir berlawanan sifatnya. Jika Gunung Jae kini dikenal sebagai ruang publik yang terbuka dan ramah wisatawan, Gunung Aur adalah benteng tradisi yang sunyi, penuh penghayatan, dan dijaga rapat nilainya.

Bapak Sukarni pun bercerita panjang lebar mengenai asal usul nama Gunung Aur yang ternyata sangat erat kaitannya dengan keberadaan sebuah pancoran sakral bernama Pancur Aur. Dahulu, pancoran ini menjadi tempat utama masyarakat menggelar acara adat, seperti prosesi sunatan. Uniknya, sumber air ini berasal dari tebing curam, memancar keluar dari ketinggian sekitar 15 meter di atas permukaan tanah. Airnya sangat dingin, jernih, dan bersih, sehingga sejak zaman dahulu tempat ini sudah dikelola dan disakralkan oleh para tetua adat. Lokasinya pun berdekatan langsung dengan Tempat Pemakaman Umum (TPU), menambah kesan sakral dan kental akan nuansa leluhur di kawasan tersebut.

Tak hanya itu, Bapak Sukarni juga membocorkan kisah mistis yang masih dipercaya sampai sekarang tentang Gunung Jae sebagai asal usul namanya. Di wilayah pemukiman sebelah sana, terdapat sebuah bukit yang bentuknya mirip gunung. Konon, bukit itu sangat gaib dan seluruh isinya berupa tanaman jahe. Namun, ada hal yang membuatnya semakin misterius: keberadaan tanaman jahe itu kini sudah jarang terlihat, dan hanya bisa dilihat oleh orang-orang tertentu yang memiliki keistimewaan mata batin atau kemampuan spiritual khusus.

Sementara itu, menurut penuturan Ibu Pengelola, hal yang paling menarik di Gunung Aur adalah meski kental dengan nuansa ritual adat dan kepercayaan leluhur, seluruh masyarakatnya adalah pemeluk agama Islam yang taat. Tidak ada bangunan pura atau tempat pemujaan lain di sana. Pusat dari segala tradisi dan kepercayaan lokal bertumpu sepenuhnya pada pancoran mata air alami tersebut. Bagi mereka, air ini bukan sekadar sumber kehidupan, melainkan titipan alam yang memiliki karomah luar biasa: mulai dari dipercaya sebagai obat penyembuh berbagai penyakit, hingga menjadi media perantara bagi mereka yang sedang berupaya mendekatkan jodoh.

Kendati demikian, Ibu Pengelola mengingatkan, mendekati mata air ini tidak bisa sembarangan. Ada aturan sakral yang tak tertulis namun dipatuhi secara mutlak oleh semua warga maupun pengunjung. Syarat utamanya satu: setiap orang harus dalam keadaan suci dan bersih lahir batin. “Kita harus benar-benar bersih. Perempuan yang sedang berhalangan (haid) dilarang keras memasuki area ini,” ujar beliau serius.

Bagi warga sekitar, kesucian fisik adalah cermin dari penghormatan tertinggi terhadap alam dan jejak para leluhur.

Ibu Pengelola juga menjelaskan, bagi siapa saja yang ingin melangkah lebih jauh ke dalam kawasan ini, ada satu gerbang budaya yang wajib dilewati sebelum menyaksikan langsung kekuatan alam dan warisan leluhur itu. Ada sebuah ritual permisi atau yang akrab disebut Disembe. Tradisi ini dipimpin langsung oleh seorang Pemangku, tetua adat yang dipercaya menjadi jembatan antara para pendatang, masyarakat, dan kekuatan “penjaga” alam yang tak kasat mata. Prosesnya sederhana namun sarat makna: dilakukan dengan cara mengusapkan ibu jari ke kening setiap orang yang datang, sebagai tanda meminta izin dan doa keselamatan selama berada di kawasan tersebut.

Di sana, sudah disiapkan titik khusus sebagai tempat pelaksanaan ritual ini, terutama bagi keluarga atau rombongan yang datang dengan membawa hajat dan niat tertentu.
Meremehkan tradisi ini dianggap melanggar batas, dan konon bisa berakibat fatal. Ibu Pengelola pun berbagi kisah peringatan yang pernah terjadi.

Pernah suatu ketika, ada pengunjung yang datang dengan rasa ingin tahu yang berlebihan namun mengabaikan tata krama. Ia masuk tanpa melakukan Desembe dan menepikan petuah sang Pemangku. Sesampainya di rumah, hal yang tidak diinginkan terjadi: ia mengalami fenomena mistis, merasa “ketempelan” makhluk halus dan tidak tenang. Tak ada pilihan lain, ia harus kembali lagi mendaki ke Gunung Awur, menghadap sang Pemangku untuk meminta maaf dengan tulus, serta menyajikan sesajen sebagai simbol perdamaian dan permohonan maaf kepada alam.

Meskipun kisah-kisah mistis dan aturan ketat masih dijaga, masyarakat di sini sama sekali tidak menutup diri dari perkembangan zaman. Teknologi perlahan merambah pelosok desa, namun mereka tetap teguh menggenggam erat warisan leluhur mereka. Seperti yang diceritakan oleh kedua narasumber, sebelum menggelar ritual besar atau pesta adat yang biasa disebut begawe, suara bertalu-talu dari aktivitas menumbuk padi secara tradisional masih terdengar nyaring menggema di antara pepohonan. Bunyi itu bukan sekadar suara kerja, melainkan tanda, sebuah alarm budaya bahwa semangat gotong royong dan tradisi akan segera dihidupkan kembali.

Perbedaan cara pandang dan karakter antara masyarakat Gunung Jae yang lebih terbuka dengan masyarakat Gunung Aur yang kental nuansa mistis dan tradisional, tidak pernah memicu perselisihan atau konflik. Kuncinya hanya satu: saling menghargai. Masyarakat yang hidup dengan gaya lebih modern pun menerima dengan tangan terbuka kehadiran para peziarah dan wisatawan yang penasaran dengan petuah-petuah kuno di sana.

Seiring berakhirnya cerita-cerita unik dari Bapak Sukarni dan Ibu Pengelola, hujan pun perlahan reda. Namun, langit tak kunjung cerah, kegelapan malam justru perlahan merayap turun menyelimuti seluruh kawasan. Angin malam yang dingin makin terasa menusuk di sela-sela pepohonan, sementara kabut tebal perlahan turun menyelimuti pandangan, serta membungkus rapat segala rahasia dan misteri kedua Gunung mulai dari pancoran suci, bukit jahe gaib, hingga pesan leluhur yang baru saja kami dengar kisahnya. Di pertemuan dua dunia ini, tercipta sebuah simfoni sempurna: bukti nyata bagaimana manusia, alam, dan keyakinan bisa hidup berdampingan, saling mengisi, tanpa harus saling menggerus.

Kelompok 1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.