Covid-19 Menghilangkan Budaya Gotong Royong

oleh -135 views

“Di dunia yang penuh sendiwara ini yang mampu menghambat dan mencela kegiatan sosial dan dan budaya masyarakat hanya perangkap setan (covid-19)dan kemudian rakyat miskinlah yang menjadi imbasnya,”(Korban rakyat miskin).

“Covid-19 adalah sebagai wahana untuk taman bermain bagi kaum elit yang bergelimang harta dan rakyat miskin di berhanguskan sedikit demi sedikit dan fenomena yang paling nyata dari hilangnya rakyat miskin, tidak terlihat lagi akitivitas-aktivitas mereka sebagai ciri khas mereka yakni gotong royong,”(zumratu).
Gotong Royong merupakan budaya yang begitu nampak dalam aktivitas sosial masyarakat, segala hal dikerjakan secara bersama oleh setiap individu yang hidup bermasyarakat namun sekarang ini tidaklah terlihat aktivitas yang demikian.

Kondisi sosial kenyataannya pada akhir-akhir ini yakni tidak terlihatnya partisipasi masyarakat secara keselurahannya dalam hajat yang diadakan oleh kelompok tertentu, ketidakterlibatannya bukanlah tidak beralasan melainkan ada faktor yang menyebabkan itu terjadi.

30 januari 2020, WHO mengabarkan pada dunia adanya penyakit yang begitu menggila sehingga ditetapkan sebagai darurat kesehatan global yaitu Covid19 yang pada Desember 2019, tepat di Kota Wuhan (China) menelan banyak sekali korban lantaran terpapar oleh virus corona tanpa mengenal usia, baik itu anak kecil sampai lansia.

Menanggapi itu beberapa negara justru menanggapinya dengan ketidakseriusan, termasuk indonesia yang ditunjukan oleh Mentri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi dengan Jokowi bercerita kelakar, “virus Covid-19 tidak masuk ke Indonesia karena setiap hari kita makan nasi kucing, jadi kebal,” sebutnya sambil tertawa.

Artikel yang menulis tentang Covid dalam laman web: aido.id, “seseorang yang telah terinfeksi tidak menunjukan gejala atau mengalami gejala ringan, virus dapat menular dengan mudahnya karena kita tidak menyadari kehadiran virus Corona penyebab COVID-19 itu sendiri. Penyebarannya yakni melalui droplet yang dihasilkan dari batuk ataupun bersin, dapat mengenai siapa saja ataupun permukaan benda mana saja tanpa diketahui serta mampu bermutasi, begitu seseorang terinfeksi, virus akan berkembang biak pada saluran pernapasan bagian bawah. Pada saat ini, gejala pun semakin berkembang, yang diawali dengan demam dan batuk sampai berujung pada kematian.”

Berdasarkan sumber kesehatan diatas, maka dapat disumpulkan akan bahayanya virus corona namun tanggapan Pemerintah rupanya menyepelakan virus yang mengancam nyawa masyarakatnya dan kenyataannya covid-19 telah menelan ratusan ribu korban jiwa di indonesi, persis apa yang menjadi kalimatnya Karl Marx terkait tingkah Pemerintah, bahwa “Pertama sebagai tragedi, berikutnya sebagai lelucon.”

Bila menilisik pernyataan dari Kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan bahwa otoritas kesehatan masyarakat di seluruh dunia sebenarnya memiliki kemampuan untuk berhasil memerangi penyebaran virus, tetapi dia mempermasalahkan komitmen politik pemerintah di setiap negara. Menurutnya, komitmen politik yang rendah, membuat ancaman wabah semakin berbahaya.

Oleh karena demikian, Gotong Royong tidak nampak dalam aktivitas masyarakat bahkan hilang, lantaran tidak adanya jaminan dari otoritas penentu kebijakan. Bukan hanya gotong royong yang hilang tapi senyuman bahagia penuh harapan dari petani yang harga panennya menurun drastis, buruh yang banyak sekali di PHK, pedagang kaki lima (PKL) yang sering dibubarkan paksa ketika berjualan dan sektor-sektor lainnya.

(Zumratu Aulia)

restbet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.