Oleh: Eka Wanora Afiza
Ku ketuk lentera hatimu
Bukan lagi didepan pintu
Tergenang rasa tak direstui
Namun perlahan kulewati
Cinta ku kini tetaplah kau abadi
Secercah cahay agejola
Terlintas dalam jendela syurga
Awan melingkari pangkuan indahmu serta belantara mahakarya menyambut pesonamu
Merah merona bibirmu tersenyum
Diriku terarah kagum
Hempas anradang hati
Hapus kan kelamnya cinta ini
Sesayat kan patah-patah
Persisnya hakulah
Tak menjalar menggaduh-gaduh
Sekali genggam runtuh
Ku teteskan tinta membuatliterasi
Hitam pekat sangat
Berkalut terbuntut
Namun cintaini..
Tak tergoyahkan
Walaupun dahsyat nyabadai menerpa
Tanpa kisaran
Namun terbungkam
Tetaplah kujunjung
Tanpa banyak untaian aksara
Cubuh itu..sungguh terasa
Sinarnya lembayung menerka
Afek sikutak pantas
Bukan sayang lagi namun apektif
Datang renjana senja
Bising mengarah gendang telinga bukan senjanya
Cahaya jingga yang menggelora
Kadang Ia malah mengagitasi
Tanpa solusi
Hatiku menyela
Nafas ku hela
Semayam menjadi hakam
Duka ku merintih seperti halium
Buyar nan tak terbaca
Cinta ku candranawa
Warnanya tak kunjung berwarna
Candranawa
Bagaimana ku bisa menetap pada duawarna
Dalam beluk rasa
Terpikat dalam istimewa
Candranawa
Pada dunia ini
Reduptak terpenghuni
Kurintih kan advis malah tak guna
Ku ceritakan dunia terpencil terasa
candrawana cinta
Mataku abuh agrafia melihat
Cinta berwarna tidaklah kusut
Segala sesakitan bisik nyeriku
Menjadi pilu candranawa cintaku
Beribu kisahku tiupkan tetap tak menetap pada satu warna
Candranawa cinta
Adiratna menjadi nirwana
Teguh dalam jiwa yang masih lusuh bernama Candranawa cinta

