Mengapa bangsawan asal desa Bayan dipanggil Raden? Ketika berkunjung ke desa Bayan, Kabupaten Lombok Utara kita tidak akan asing dengan panggilan Raden dan Denda, panggilan tersebut diberikan untuk bangsawan yang ada di desa tersebut.
Desa Bayan merupakan sebuah desa yang berada di sebelah utara pulau Lombok, tepatnya di bawah kaki gunung Rinjani. Dalam sejarahnya desa Bayan merupakan titik awal penyebaran Islam yang ada di pulau Lombok, ini dibuktikan dengan adanya Masjid Kuno Bayan.
Selain itu ajaran Islam yang dibawa oleh walisongo dari tanah jawa dapat ditemukan dari panggilan kebangsawanan yang ada di tanah Bayan. Gelar bangsawan itu adalah Raden yakni sebutan untuk laki-laki dan Denda untuk perempuan.
Menurut tokoh adat desa Bayan Raden Gedarip, Raden berasal dari kata Rahdin atau Rahadian yang memiliki arti orang yang pertama menerima ajaran Islam di desa Bayan.
“Dulu Islam pertama masuk ke pulau Lombok melalui Bayan, orang disini yang menerima ajaran Islam tersebut diberi gelar Raden yang sama dengan bangsawan asal pulau Jawa”. Jelasnya
Di dalam masyarakat Bayan dikenal dua keturunan yakni Raden dan Amaq, untuk panggilan Amaq sendiri diberikan kepada mereka yang jajar karang atau non bangsawan.
Penyebaran Islam di desa Bayan tidak terlepas dari pengaruh politik, pembawa ajaran Islam lebih dahulu mendekati Datunya atau Rajanya, dikarenakan dulunya masyarakat Bayan tunduk dan patuh kepada Datunya, ketika datunya memeluk ajaran Islam maka masyarakatnya pun ikut untuk memeluk Islam.
Dengan nada penuh semangat Raden Gedarip menceritakan tentang awal mula masuk Islam ke tanah Lombok.
“Dulu ketika Islam baru masuk ke Bayan yang diajarkan adalah tauhid, barulah setelah itu di ajarkan yang lainnya” ujarnya.
Adat dan Agama di Masyarakat Bayan.
Berbicara agama dan adat di Bayan kedua hal itu tidak bisa dipisahkan, masyarakat Bayan dikenal dengan menjunjung tinggi adat istiadatnya.
Hal ini terlihat dari beberapa perayaan yang ada di masyarakat Bayan seperti perayaan maulid adat, pernikahan adat dan lain sebagainya.
Perayaan maulid adat dilaksanakan tiga hari setelah perayaan maulid di kalender nasional disini akan terlihat perbedaan perayaan maulid adat yang ada di Bayan dengan daerah lainnya di Lombok.
Selain maulid adat ada juga nikah adat, nikah adat dilaksanakan setelah pernikahan secara agama, prosesi nikah adat di Bayan harus dilakukan sebagai pertanda pernikahan itu sah secara adat.
Raden Gedarip juga menjelaskan bahwa perayaan Agama tidak bisa lepas dari adat.
“Dahulunya ketika ajaran Islam itu di sebar oleh Sunan Ampel, budaya yang tidak bertentangan dengan ajaran agama dibiarkan, bahkan dikolaborasikan, sementara budaya yang bertentangan dengan agama dihapus” jelasnya.
Perayaan-perayaan keagamaan yang tidak bisa dipisahkan dengan adat inilah yang menyebabkan kebudayaan Bayan terkenal hingga keluar negeri. (RF)







Luar Biasa