Mulai Jadikan Kuliah Online Pilihan Utama
UIN Mataram— Kuliah online nampaknya masih menjadi perbincangan hangat dikalangan civitas akademika UIN Mataram. Tuntutan mahasiswa untuk dipermudah dalam hal nilai dan penugasan, mendapat tanggapan dari pimpinan UIN Mataram.
“Soal penilaian itu menjadi hak prerogatif dosen, berdasarkan standar yang ada di buku Pedoman Akademik UIN Mataram. Kalau ada yang menuntut begitu (nilainya langsung diluluskan) itu akan menurunkan mutu akademik UIN Mataram,” balas Prof. Masnun via WA pada Senin malam (13/04) kepada Royuna.

Dalm surat edaran nomor 656/Un.12/Hm.01/03/2020 yang diterbitkan pada 1 April silam, tentang panduan kegiatan akademik selama masa tanggap Covid-19 UIN Mataram, dijelaskan asas proporsionalitas, mudah dimengerti dan memperhatikan aspek psikologi dalam proses akademik. Surat edaran ini mengamanahkan agar proses belajar daring dapat berjalan inovatif dan memiliki arah pembelajaran yang tepat.
Surat edaran yang menjadi sambutan surat edaran Kementrian Agama ini pun menekankan agar Dosen dapat menghadirkan pembelajaran berbasis audio visual, sehingga bisa merangsang mahasiswa berdiskusi dan dapat memahami materi yang disampaikan.
Sudahkah proses kuliah berjalan ideal seperti yang dimaksud ?
Tim Redaksi Royuna menghubungi dosen yang menggabungkan audio visual sebagai media pembelajarannya. Mata Kuliah Ekonomi Statistik yang diampu oleh Shofia Mouizatun Hasanah, ME., diakui mahasiswa Ekonomi Syariah semester empat mudah dipahami. Dosen ini membuat video penjelasan, kemudian diunggah agar diakses mahasiswa. Peserta belajar kemudian dipersilahkan diskusi terbuka atas materi yang sudah disampaikan.

“Karena Mata Kuliah yang saya ampu penuh dengan hitung-hitungan, sehingga metode media video saya pilih agar mahasiswa mudah memahami,” ujar dosen satu ini.
Nopia Agustina mahasiswa semester empat Ekonomi Syariah yang mengikuti proses kuliah Ekonomi Statistik, menuturkan bahwa metode pembelajaran yang dialami mudah dimengerti. Video yang dikirim dosen mempermudah pemahamannya sebab dapat melihat dan mendengar langsung penjelasan dosen. Tugas yang diberikan dirasa sebagai penguat dari materi yang sebelumnya sudah difahami.
Berbeda dengan mahasiswa yang berada di KPI semester delapan. Terdapat Mata Kuliah yang metodenya dianggap kurang efektif oleh mahasiswa. Dosen ini memerintahkan kelompok mahasiswa yang telah dibentuk sebelumnya untuk mengirim makalahnya di grup belajar sebagai ganti presentasi kelas. Untuk tugas, mahasiswa dipersilahkan meringkas makalah dengan tulisan tangan di kertas double folio. Tulisan tangan ini di foto untuk dikirim ke grup, sebagai ganti absensi. Dosen sebenarnya juga memberi instruksi agar mahasiswa membuat video, namun bukan diunggah ke grup, melainkan untuk Dosen.
“Makalah sudah didownload melalui grup. Kita resume untuk apa lagi ?. Video yang sudah dibuat diambil sendiri, harusnya dibagikan ke grup. Sebaiknya dosen membuka diskusi agar kami juga terpacu untuk memahami,” keluh Khutbi Hidayat mahasiswa KPI Smester delapan, sekaligus ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi (Himaprodi).
Ketua Himaprodi ini juga menyambut kuliah online sebagai tawaran baru, bukan alternatif. Dia menekankan agar semua pihak dapat serius menjalani ini, melihatnya sebagai pilihan utama, bukan cadangan. Dirinya menganggap, jika kuliah online jadi cadangan, maka penangannya tidak akan serius.
“Kami berharap agar semua memahami ini sebagai pilihan utama. Intinya agar kita dapat memahami materi yang dimakasud, jadi sebaiknya metode menyesuaikan keadaan mahasiswa,” tutupnya lagi. (Ro’yuna-Nora.Win)
*Sampaikan komentar, atau tanggapan dengan santun melalui kolom komentar, atau tombol WA.








