
Oleh: Rabiah
Di lorong-lorong gelapnya malam
Pada tumpukan-tumpukan kardus bekas kimiawi.
Ia duduk menghadap kiblat dengan kesedihan.
Sembari diskusi dengan diri sendiri, tentang apa yang paling sabar, selain hatinya yang selalu menjadi tabib yang tabah menjalani hidup.
Badannya yang pekat tak ter-urus.
Duduk menepi di jalan yang lurus.
Untuk mencari segenggam nasi yang jarang nyaris di perut.
Di jalur jalan,
Hanya ditemui oknum-oknum berpendidikan.
Tak satupun dari mereka mengulurkan tangan untuk membantu.
Malam semakin larut,
Tubuhnya masih bersandar di tembok tua.
Orang yang berlalu lalang tak jua datang untuk memberi.
Lalu benar-benar tak ada yang bisa dilakukan lagi,
Selain memakan makananan yang berserakan di jalan.
Tuhan, tanganku lelah menjelma doa yang mengharap diijabah.
Apakah ini takdir? batinnya.



