Legenda Penarik Wisatawan

oleh -31 views
Tradisi pemakaian sindur di daerah kepala atau dahi

Di balik tenangnya permukaan danau, Gunung Jae menyimpan kisah yang hidup dari generasi ke generasi. Bagi masyarakat Desa Sedau, mata air itu bukan hanya tempat wisata, melainkan ruang yang dijaga dengan adat dan kepercayaan. Setiap orang yang datang diingatkan untuk menjaga ucapan, sikap, dan tidak sembarang bertindak di kawasan tersebut.

Menjelang petang, kabut tipis perlahan turun menyelimuti pepohonan di sekitar danau. Riak air kecil memantulkan cahaya langit yang mulai pudar, sementara beberapa pengunjung tampak duduk diam menikmati suasana. Namun, di balik ketenangan itu, masyarakat percaya ada hal-hal yang tak kasat mata hidup berdampingan dengan manusia.

“Dari dulu orang tua kami selalu mengingatkan supaya jangan melupakan ritual ketika datang ke sini, karena tempat ini bukan hanya milik manusia,” Tutur Buk Risma anggota Pokdarwis Desa Sedau.

Kepercayaan itu masih dipegang erat hingga sekarang. Beberapa warga kerap datang membawa sesajen sederhana atau sekadar memanjatkan do’a di dekat sumber mata air. Tradisi tersebut dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur yang diyakini menjaga kawasan Gunung Jae sejak dahulu kala.

Proses membasahi bagian tubuh menggunakan mata air yang terletak di Gunung Aur

Meski diselimuti cerita mistis, Gunung Jae tetap menjadi tempat yang ramai dikunjungi wisatawan. Sebagian datang untuk menikmati udara sejuk dan keindahan alamnya, dan lainnya lagi penasaran dengan cerita-cerita yang beredar di tengah masyarakat.

Anak-anak berlarian di tepi danau, suara tawa mereka bercampur dengan desir angin yang menggoyangkan ranting pohon.Gunung Jae akhirnya bukan hanya tentang mata air yang tak pernah kering. Ia adalah tentang ingatan, kepercayaan, dan hubungan manusia dengan alam yang masih dijaga hingga hari ini.

Kelompok 2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.