Ro’yuna Redaksi-Beredarnya video kericuhan aksi yang dilakukan oleh mahasiswa UIN Mataram dengan aparat kepolisian di depan gedung DPRD Provinsi NTB Kamis, 6 September lalu sempat viral dan mendapat beragam tanggapan dari warganet.
Menanggapi hal tersebut, Presiden Mahasiswa (Presma) Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Defri angkat bicara terkait beredarnya video tersebut. Ia mengatakan bahwa adanya miskomunikasi antara Koordinator lapangan (Korlap) dengan sejumlah massa aksi pada saat demonstrasi berlangsung.
“Dikarenakan jumlah massa aksi yang mencapai 3000 lebih jadi dari ketiga Korlap kewalahan dalam mengatur massa aksi agar tidak melakukan baku hantam dengan aparat keamanan”, ucap Defri ketika diwawancarai Tim LPM Ro’yuna belum lama ini (Rabu, 14/09/22).
Diduga ada salah satu orang dari massa aksi yang tersulut emosi mengakibatkan suasana demonstrasi menjadi semakin ricuh dan tidak terkendali.
“Dari pihak Korlap maupun saya, sudah mencoba menghimbau kepada teman-teman untuk berhenti sebentar agar tidak tersulut emosi tetapi kami tidak didengarkan sehingga terjadilah kericuhan seperti di video itu”, ucapnya lagi
Dari video yang beredar, muncul banyak stereotip negatif dari masyarakat yang mengatakan bahwa mahasiswa UIN Mataram membawa senjata tajam pada saat melakukan aksi demonstrasi, namun hal itu dibantah oleh Presma UIN Mataram.
“Tidak ada aksi yang tidak ricuh, namun setelah mengetahui banyak orang maupun media yang mengatakan mahasiswa UIN Mataram membawa senjata tajam saat melakukan aksi, dan pada saat itu saya langsung membantah hal tersebut dengan mencoba membuat klarifikasi di sosial media dan menghubungi pihak media tetapi sampai saat ini belum ada tanggapan dari mereka,” tuturnya
Lebih lanjut ia menuturkan bahwa beberapa hari setelah aksi pihak Polda NTB mengirimkan press release yang berisi bahwa yang membawa senjata tajam ketika aksi bukanlah mahasiswa UIN Mataram.
“Beberapa hari setelah aksi, pihak Polda mengirimkan press release yang berisi bahwa bukan mahasiswa UIN Mataram yang membawa senjata tajam tetapi mahasiswa dari kampus lain,” jelasnya lagi
Hasil penelusuran Tim Ro’yuna redaksi di website resmi polda NTB memang adanya klarifikasi terkait pendemo yang membawa sajam.
Dalam keterangan tersebut pendemo yang membawa sajam diduga penyusup.
“Mahasiswa yang melakukan aksi terpancing dengan aparat yang sedang mengangamankan penyusup, namun setelah diketahui bahwa pelaku bukan bagian dari mereka, masa aksi melanjutkan orasinya,” jelas Kapolresta Mataram Kombes Pol Mustofa dikutip dari tribratanews.ntb.polri.go.id. (LK Yuna)







