Diantara hari-hari yang berjalan biasa, Namamu masih saja ikut terbaca. Pada angin yang lewat tanpa suara, ada kenangan yang diam-diam menyapa. Aku sudah mencoba sibuk dengan dunia, menyusun tawa, menata

Aku si bungsu di rumah , Sering dianggap belum mengerti. Langkahku salah, kataku salah, Seolah semua jatuh padaku. Kakak bicara, semua percaya, Aku bicara, hanya dianggap biasa. Meski hati ingin

Malam berjalan tenang, Dan sebuah lagu lama dari Serana milik For Revenge singgah tanpa diminta. Nadanya seperti membawa pulang Ingatan yang pernah kusimpan rapi Tentang tempat yang dulu terasa Paling

Kita bertemu bukan karena takdir yang sempurna,Bukan juga karena rencana semata.Tapi karena tugas sosialisasi KIPK,yang menuntun kita berdiridi depan sebuah SMAdengan  tangan penuh berkasdan hati yang masih sama-sama asing. Tapi

Ayah pergi tanpa kata,meninggalkan sepi di setiap sudut rumah.Tak ada lagi suara kau memanggilku,hanya angin yang datang menggantikanmu. Aku masih duduk di tempat biasa,tempat kita dulu bercerita bersama.Kini hanya bayangmu

Di saat orang lain merasa senang kembali ke rumah setelah lelahnya bergelut dengan dinamika perkuliahan. Justru aku pribadi memandang terbalik. Pasalnya, sejak rumah itu tidak lagi seperti rumah, aku malas untuk

Aku meninggalkan kota di dalam kepalaku Jalan-jalannya dipenuhi puing janji berbau serbuk luka dari kenangan lama Dibelakangku, rasa takut Masih meledak di bukit-bukit sunyi, Sementara di depanku terbentang Padang asing

Asa itu pupus… Menghapus jejak harap yang terjerat labirin hampa yang menguar, Mengikat harap yang mencekik leher sang puan… Melolong ampun yang tak terdengar… Semua orang tuli, tak dengarkah teriakan

Aku bebas, aku juga kuatTidak terikat, maupun terlambat Aku berani, untuk majuMenuju impianku, tanpa ragu Aku bebas bersuaraMengungkapkan isi,pikiran,tanpa takut Aku bebas melangkahMenjelajahi dunia, tanpa batas Aku bebas memilihMenentukan jalanku,