Aku Ingin kembali, Itu Saja

oleh -76 views

Sungguh menyesakan, malam ini terasa lebih dingin dari sebelumnya. Hari ini, malam sepertinya tidak melakukan tugasnya kali ini. Suara-suara rindu itu kembali mendayu.Ponsel berbunyi keras. “Ada apa ?” tidak seperti biasanya, mengeceknya saja lelaki 18 tahun  dengan badan tegap dan berambut lurus tidak terlalu tampan tersebut merasa gugup. Lalu, dikejutkannya ia melihat nama yang tidak terlihat asing di notif sosial media. Hal yang tak pernah dia duga sebelumya, setelah berapa puranama dia lewati tanpa hadirrnya kabar daeinya. Tiba-tiba muncul begitu saja. Memaksa Segara Angkasa Putera atau akrab dipanggil Angkasa itu kembali membuka lembaran-lembaran lama.

Angkasa hampir merasa baik-baik saja di saat  ia hampir dapat melupakan perempuan masa lalunya. Namun, sepertinya Angkasa harus jujur pada dirinya sendiri, jika ia tidak bisa melupakan perempuan berkerudung, berparas cantik namun tidak terlalu tinggi itu bernama Mauranisa Layung Jingga atau akrab dipanggil Maura itu.

Angkasa dan Maura baru berpisah hampir sekitar 14 bulan yang lalu. Mereka dulu adalah dua orang paling bahagia di planet ini. Namun, mereka gagal dalam mengatasi masalah, sehingga akhirnya membuat mereka berdua berpisah. Meski hubungan mereka terbilang singkat. Namun, perasaan ituuu begitu melekat.

Awal kejadian mereka bertemu sekitar 22 bulan yang lalu. Pada saat itu Angkasa selesai latihan ekstrakulikuler bola basket bersama teman-temannya di gedung olahraga milik sekolahnya. Angkasa istirahat lebih awal hari ini. Karena, takut kakaknya datang dianya masih keringetan. Sedangkan, kakaknya paling tidak suka dengan bau keringatku sehabis bermain basket. Emang, di dunia ini yang suka keringat orang setelah main basket, cuma dua. Yang pertama pacar yang lagi buntet hidungnya, yang kedua nyamuk.

Hari ini motor Angkasa sedang berada di bengkel. Karena, lampunya yang tidak mau menyala dari kemaren. Sembari menunggu jemputan, Angkasa mencari ponselnya lalu membuka instagram miliknya. Ia melihat salah satu postingan cerita milik Kak Andini yang merupakan salah seorang kakak kelas Angkasa yang populer karena kecantikannya di sekolah.

“wau, cantik sekali dia” spontan Angkasa berkata di depan teman-temannya.

Satu temannya merlempar handuk bekas keringat miliknya. “hayoloo.. siapa itu ?, cantik.. cantik” dengan wajah hingar temannya bertanya.

“Hahaha, tidak apa.” Balas Angkasa dengan tak merubah pandangannya ke layar ponsel.

“ANJENG!! GUE DAH MANDI CUK!! MANA KUMEL LAGI!” Angkasa melempar handuk kumel yang ia pungut di tribun penonton.

Karena rasa penasaran, Angkasa mencoba untuk mengecek siapa dia. Dibukanya profil dan mecoba men-scroll postingan di instagram milik perempuan tadi. Ternyata setelah ditelusuri perempuan itu adalah adik dari Kak Andini. Pantas saja, tak heran jika perempuan itu bisa secantik itu. Lalu Angkasa mencoba membalas postingan cerita dari perempuan itu.

“Follback!!!” tulis Angkasa.

Beberapa menit kemudian Angkasa menunggu namun tidak ada balasan darinya,

“Apa mungkin aku hapus aja pesanku ?” batinnya.

Lalu ia memilih untuk meletakkan ponsel miliknya disebelahnya dan ngobrol dengan teman-temannya. Mereka membicarakan event yang akan mereka ikuti pada bulan depan. Mereka saling memberikan evaluasi, arahan, dan memikirkan strategi baru yang diciptakan pelatihnya tadi malam. Selang beberapa waktu ponsel Angkasa berbunyi ketika membicarakan head-to head dengan salah satu sekolah yang menjadi rival SMA mereka dari tahun ke tahun. Angkasa beralih pandangan ke arah ponsel yang terletak di sebelahnya tadi. Ternyata balasan dari Maura.

“Iya” balasan Maura.

Sontak Angkasa langsung terkejut dan tersenyum memandangi ponselnya yang ada di tangannya.  Dan teman-temannya terheran, “Woy, ngapain lu senyum sendiri ?” sindir temannya.

“Tidak apa.” Mengelaknya Angkasa pada mereka.

Setelah itu Angkasa pulang dijemput oleh kakaknya, dan teman-temannya sontak ikut pulang juga dengan tubuh yang masih penuh keringat. Sungguh bau sekali mereka. Mana bukannyaa langsung pulang, malah pergi cari makanan. Gatau lagi nanti gimana rasanya jadi orang yang ikut nongkrong disana. Pasti pada balik karena baunya yang naudzubillah.  

Dibiarkannya balasan dari perempuan tersebut saat menaiki motor kakaknya. Namun dijalan Angkasa memikirkan perempuan tadi sampai tidak menyadari jika mereka berdua sudah sampai di rumah tua 90an yang dibangun oleh kedua orangtuanya setelah menikah.

Sesaat dirumah, seperti biasanya Angkasa langung pergi mandi dan makan, lalu belajar di kamar mungilnya yang berukuran 3×4. Hanya ada meja belajar dan rak buku berisikan buku pelajaran dan beberapa novel karangan Golagong, dan Fiersa Besari. Juga ada lemari kayu tua dengan cermin di tengahnya, serta kasur kecil yang mungkin hanya bisa memuat 2 orang saja. Hidup Angkasa begitu sederhana, dan ucap syukur tak pernah terhenti setiap harinya. Ia berharap suatu saat nanti bisa mengubah kehidupan keluarganya. Itulah alasan mengapa ia selalu tetap belajar walaupun memiliki banyak kegiatan di di dalam ataupun di luar sekolah. Tak hanya ekstrakulikuler basket saja, Angkasa juga aktif dan bahkan ia menjadi salah satu orang penting di pramuka, yaitu pemangku adat. Di luar sekolah-pun Angkasa juga termasuk aktif, ia aktif di organisasi pemuda desa atau biasa disebut Karang Taruna.

Pukul 10 malam Angkasa menutup bukunya dan mengambil tas yang ada disamping meja untuk memasukan barang-barang yang akan dibawa ke sekolah besok. Seperti biasanya ia mengeceknya ulang untuk memastikan tidak ada yang tertinggal. Namun, pandangannya tiba-tiba teralihkan pada ponsel ketika ia hendak memasukan kotak pensil miliknya yang tergeletak di meja. Ditaruhnya tas itu, lalu mengambil ponselnya dan berbaring di atas kasur. Ia masih penasaran dengan perempuan tadi. Ia mencari-cari info tentang Maura. Tak terasa sudah tengah malam, dan Angkasa harus tidur agar dapat berangkat pagi untuk mengambil motornya di bengkel.

Hiruk pikuk pagi menyengat, ada burung-burung terbang dan ayam-ayam yang tak berhenti membangunkan tuannya. Pukul 05.30 Angkasa berangkat ke bengkel untuk mengambil motornya. Setelah mengambil motor, ia bergegas ke sekolah. Di jalan pun Angkasa masih memikirkan hal-hal tentang si Maura. Sampai di sekolah, ia memakirkan motornya dan langsung menuju kelasnya. Sesampainya di kelas sontak yang ada dipikiran Angkasa adalah Maura, ia merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya. Dia membuka instagram miliknya dan melihat pesannya yang kemaren. Ia bingung apa yang harus dilakukan. Lalu ia bertanya pada teman sebangkunya, Langit.

“Ngit, gua minta saran dong!” tanya Angkasa.

“Saran apaan?” jawab Langit.

 “Ini di lanjut apa, nggak?” sambung Angkasa sambil memperlihatkan isi pesannya.

“Lah, itu jawabannya cuma gitu, mau lu apain?” jawab Langit sambil terkekeh.

“Gak asyik lu, rugi gua nanya” jawab Angkasa sinis.

Langit menepuk pundak angkasa, lalu berbisik “Yaudah, kalau lu mau deketin dia, coba nunggu dia buat story dulu.”

Tertawa saat mendengarnya, Angkasa sontak berpikir “bener juga si kupret ini” batinnya. Ia pun menunggu postingan cerita dari Maura. Hingga akhirnya hal yang ia tunggu pun muncul, cerita Maura yang menggunakan baju sekolah dengan temannya. Tanpa mikir panjang, Angkasa membalas cerita Maura.

“Itu sekolah mana ?” tulis Angkasa

…. tidak ada balasan.

Angkasa menunggunya dengan tenang. Dan pada saat bel pulang, balasan dari Maura baru muncul. “Gurah mas” balas Maura.

Namun karena Angkasa ada ekstrakulikuler pramuka hari ini, dihiraukannya pesan balasan dari Maura tadi. Setelah selesai dengan ekstranya, Angkasa baru membalasnya. mereka saling berbalas pesan hingga pada akhirnya mereka berdua nyaman lalu bertukar nomor dan pindah ke aplikasi whatsapp.

Angkasa dan Maura saling bertanya kabar setiap harinya. Maura sepertinya sudah jatuh hati pada Angkasa, tetapi Angkasa sendiri justru belum yakin dengan Maura. Angkasa ingin mendekatinya tetapi bukan menjadi seorang pacar. Ia hanya takut jika pacaran hanya akan membawanya pada sakit hati, dan juga langkahnya yang mungkin saja bisa dibatasi.

Hari demi hari berlalu, Angkasa dan  Maura semakin dekat setiap detiknya. Mereka memang bukan pasangan, tapi kedekatan dan kemesraannya mengalahkan lebah dengan bunga. Mereka begitu dekat sampai bayangan mereka pun lebur menjadi satu. Pada suatu malam mereka ketemuan di sebuah cafe. Mereka asyik mengobrol sana sini sampai pada akhir obrolan, Maura meminta satu hal yang sangat menyulitkan untuk Angkasa. Yaitu sebuah kepastian tentang hubungan mereka. Namun, kali ini Angkasa tidak bisa mengelak. Minggu depan Maura harus pindah ke Surabaya karena ia harus ikut ayahnya yang kerja disana.

“Angkasa, aku mau bilang sesuatu.” Tutur Maura membuat suasana hening seketika.

“Iya, ada apa?” tanya Angkasa kebingungan.

“Maaf sebelumnya baru ngomong sama kamu. Minggu depan aku harus pergi ke Surabaya ikut Ayahku kerja disana, dan aku minta kejelasan hubungan ini mau dibawa kemana?, aku takut jika semisal nanti ada orang yang mengaggu salah satu dari kita. setidaknya jika kita punya ikatan yang jelas. Kita bisa menghindarinya, kan ?” jawab Maura dengan muka serius.

Angkasa tersedak, ia kaget dan merasa kebingungan “HAAA!! Kenapa baru bilang sekarang ?”.

“Aku kan sudah minta maaf…” sambil memelas. “Aku baru bilang sekarang tu biar aku tahu seperti apa reaksi kamu ketika kita berada di saat sulit seperti ini. kamu lari apa ngehadapin masalah. Aku jadi bisa tahu” muka Maura berubah menjadi serius.

“Maaf Maura, aku tidak bisa memberimu kepastian sekarang, aku merasa belum menemukan apa yang aku cari pada diri kamu” balas Angkasa dengan wajah meyakinkan.

“Ohh, aku paham kok, gaapa. Kita jalani hidup masing-masing setelah ini.” balas Maura dengan senyuman.

“Iya. Maaf, Maura” balas Angkasa dengan rasa bersalah.

“….”

Seketika suasana menjadi dingin, tak ada ungkapan lagi setelah obrolan itu. Mereka berdua berubah menjadi sosok asing duduk berhadapan pada satu meja yang sama. Setelah menghabiskan minumannya, Maura pamit untuk pulang karena dirasa sudah jam malamnya. Tapi Angkasa hanya berdiam diri menyalahkan dirinya sendiri hingga cafe itu tutup. Agkasa pun pulang dengan rasa bersalah, ia tak berhenti mengutuk dirinya sendiri. Setelah sepulang dari cafe, Angkasa pergi ke kamar dan langung tidur. Ia memilih untuk tidak membuka ponselnya karena takut ia akan menyalahkan dirinya lebih dalam.

Esoknya Angkasa melakukan aktifitas seperti biasa. Awal-awal hari memang menyulitkan untuk Angkasa. Namun setelah beberapa purnama ia lalui, angkasa telah berhasil melupakannya dan melanjutkan hidup tanpa ada masalah tentang masa lalunya. Hingga pada suatu hari ponselnya berbunyi menandakan ada pesan masuk. Angkasa penasaran, dibukanya ponsel yang tergeletak di samping bantal atas kasurnya itu. Terlihat nama Nicholas ada di ujung layar pada pesan instagram. Angkasa makin penasaran dengan isi pesannya. Lalu dibukanya pesan dari Nicholas.

“Bro, lu Angkasa kan?, mantan Maura” tulis Nicholas.

Sontak Angasa kaget dengan isi pesan dari Nicholas. “Tidak, aku belum pernah pacaran sama Maura”

“Yaudah, dia akan jadi milik gua nanti, gua cuma ingin mastiin gaada peganggu nanti pas gua tembak” balas Nicholas.

“Iya, good luck, ya” tulis Angkasa sambil tersenyum tipis.

Pada waktu itu Angkasa biasa saja. Tapi malam harinya ketika ia selesai dengan event pramuka yang diadakannya di sekolah, ia mengobrol dengan pembinanya membicarakan evaluasi event yang usai tadi, Angkasa mendengar suara ponsel miliknya berbunyi, tetapi tidak dihiraukannya karena ia sedang memimpin rapat evalusi. Setelah selesai dengan rapatnya ia tidak langsung membuka ponselnya, ia langsung pamit untuk pulang ke teman-temannya, mengingat malam ini ia harus belajar karena besoknya ada ujian Matematika. Memang matematika bukanlah hal yang sulit bagi Angkasa tetapi ia tidak ingin menyepelekan hal ini. Ia bergegas pulang dan belajar semalaman sampai lupa ada pesan masuk dari tadi siang.

Esoknya ia bangun telat karena belajar terlalu malam. Sesampainya di sekolah ia mengeluarkan laptop bersiap untuk ujian matematika. Setelah ujian berakhir, ia mengingat semalam ada notif dari seseorang. Namun ketika Angkasa membuka ponselnya, banyak dipenuhi chat dari orang-orang dan beberapa grup. “Dahlah, males” batin Angkasa saat melihat kolom chatnya. Memang sudah biasa, Angkasa adalah orang yang sangat banyak dicari semenjak ia memilih untuk menyibukan diri, berharap dengan itu ia bisa melupakan Maura. Ditaruhnya ponsel itu kembali ke saku celannya. Dan pesan itu semakin tenggelam, tak tersentuh. Seperti Kapal Titanic

Beberapa minggu kemudian Angkasa mengikuti event basket di DBL Surabaya. Di semifinal langkah timnya harus terhenti ketika melawan SMAN 6 Surabaya dengan skor tipis 33 : 34. Pada saat bermain Angkasa merasa ada yang aneh. Ada sesuatu yang memasuki kepalanya, seperti ia melihat sesuatu. Tapi ia mengelak, mungkin hanya perasaannya saja. Angkasa dan teman-temannya pun  pulang meninggalkan pertandingan final, yang sebentar lagi dimulai.

Pada malam harinya terdengar suara spam chat dari ponsel miliknya. Angkasa dikejutkan dengan nama itu.

“Dia ?” batinnya. Lalu dibuka isi pesan dari perempuan tersebut.

“PING!!” diulangnya 6 kali.

“Halo mas, apa kabar ?, tadi aku melihat mas main basket di Surabaya lhooo” Tulis Maura hangat.

“Iya, aku baik. Dan aku juga main tadi, tapi sayangnya timku kalah” balas Angkasa santai.

“Gaapa mas, tetep semangat.” balas Maura untuk menyemangati Angkasa

Setelah saling berbalas pesan, mereka berdua kembali akrab. Namun keakraban itu harus musnah sekali lagi, ketika Maura meminta Angkasa melihat pesan yang dikirimnya tiga minggu lalu.

“Kamu gak lihat pesan aku tiga minggu lalu mas ?”

“Bentar, aku lihat dulu”

Seketika Angkasa bingung. Ia terkejut pada apa yang barusan ia baca.

“Mas, aku tadi ditembak temanku di taman tapi aku belum nerimanya, aku bilang kalau aku masih pikir-pikir dulu. Aku mau tanya mas dulu. Mas mau gak ngasih kepastian ke Maura? Kalau, iya, nanti aku jawab ke Nicho kalau aku sudah punya pacar. Tolong dibalas, ya, mas, anggap aja Maura masih ngasih kesempatan buat mas Angkasa. Salam” pesan dari Maura tiga minggu lalu.

Angkasa tidak langsung membalasnya, ia membeku beberapa menit. Tidak disangkanya seseorang yang mengirim pesan tiga minggu lalu itu adalah Maura. Batinnya mengutuk “kenapa dulu aku nyerah gitu aja ?”. lalu setelah mengumpulkan kekuatan ia memberanikan diri membalas pesan dari Maura.

“Iya, maaf aku sedang sangat sibuk waktu itu. Aku bahkan tidak sempat mengecek ponsel. Tidak apa, kamu lebih layak sama dia.” Angkasa membalas dengan menahan kesedihannya.

“Makasih mas” tulis Maura.

Angkasa tidak pernah berhenti menyalahkan dirinya karena kehilangan Maura untuk kedua kalinya. Ia berdo’a pada Tuhannya untuk meminta kesempatan ketiga, dan berharap ia akan melakukannya dengan baik. Namun sepertinya Angkasa sudah tidak bisa kembali pada Maura, perempuan cantik itu terhempas dibawa angin pergi menuju tempat yang seharusnya. Disini Angkasa mengerti, jika melakukan sesuatu, kita harus melakukannya dengan serius. Apalagi yang dipertaruhkan adalah hati, jika sudah menaruh akan sangat sulit untuk mengambilnya kembali. (Haykal)

TAMAT.

 

zbahis

One thought on “Aku Ingin kembali, Itu Saja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.