Dinding Tawa, Jejak Air Mata

oleh -86 views
Pinterest/ https://id.pinterest.com/pin/124412008450852928/

Hanya ada dinding tawa yang tak seindah dulu iramanya, terdengar sumbang walau cantik pesonanya…

Tak seelok dulu rupanya, cantik rupawan lentik pula matanya, tak bisa menapik air mata yang gugur di sudut mata jernihnya…

Bolehkah menitip harap pada sosok pengembara itu…
Harap tentang esok yang lebih lapang dadanya.

Namun, langkah-langkah waktu semakin berat menjejak masa,
di lorong kenangan yang membeku dan sunyi,
ia berkelana membawa luka yang tak kunjung sembuh,
setiap gelak dan senyuman,
hanya bayang di dinding yang semakin rapuh.

Ia menabung harapan di dada yang perih,
dalam bisu, dalam bening air mata yang enggan berhenti,
dititipkan pada arus sungai dan desir angin malam,
menganyam mimpi di ujung lorong semesta
walau tahu pagi kadang tak seindah cerita.

Di bawah langit kelabu,
ia temukan sisa cahaya menetes dari surga yang jauh,
menyeka air mata dengan doa,
mengendapkan duka menjadi bara harapan untuk esok yang penuh cita, berharap esok akan lebih cerah,
kendati luka tak benar-benar hilang,
setidaknya harapan masih tumbuh di hatinya yang sendu,
menuntun langkah meski dunia masih terasa pilu.​

July

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.