Hari terakhir PBAK UIN Mataram pada Kamis 20 Agustus 2026, diwarnai dengan kericuhan. Kampus yang baru saja mendeklarasikan dirinya sebagai Kesultanan kini berubah menjadi cacian orang-orang diluar sana. Lantaran terjadinya bentrok antar organisasi Eksternal, yang dimana video tersebut menyebar ke media sosial. Organisasi Mahasiswa pada hakikatnya lahir sebagai ruang untuk kita belajar, berdiskusi, bertukar gagasan, sekaligus membentuk karakter intelektual. Namun kini di dalamnya, mahasiswa tidak hanya dituntut mampu menyampaikan pendapat, tetapi juga belajar menghargai perbedaan, mengelola konflik, dan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan kelompok. Nyatanya idealisme tersebut dapat kehilangan maknanya ketika organisasi justru terjebak dalam persaingan kepentingan dan ego sektoral.
Mahasiswa selama ini dikenal sebagai kelompok yang memiliki keberanian untuk mengkritik ketidakadilan, menyuarakan aspirasi, dan menjadi penggerak perubahan sosial. Kini organisasi mahasiswa itu perlahan berubah menjadi ke egoisan kepentingan organisasi.
UIN Mataram justru OKP atau organisasi eksternal didalamnya jauh dari kata kerukunan. Hari itu menjadi hari yang paling memalukan, selama ini kita bergerak dan berjuang dengan tujuan yang hampir sama namun hari itu berubah menjadi saling membelakangi satu sama lain. Apakah pantas organisasi yang katanya besar sampai tingkat nasional seperti itu? Mengadu domba, memprovokasi untuk saling menjatuhkan bahkan saling membenci. Jalan beriringan tidak menjadi masalah dan tidak mempengaruhi kuantitas pengkaderan. Apa gunanya kader banyak tapi yang dilahirkan adalah kader-kader yang berjiwa haus kekuasaan dan jabatan. Atau melahirkan kader-kader yang tidak mempunyai moral dan etika. Kita selalu menggaungkan arti kata kemanusiaan tapi lihatlah sekarang apakah kita benar-benar memahami apa itu hakikat kemanusiaan?. Kaderisasi yang seharusnya membentuk manusia yang kritis dan dewasa justru dapat berubah menjadi proses reproduksi ego kelompok.
Intelektualitas bukan sekedar kemampuan berbicara dengan istilah-istilah akademis atau menguasai teori. Intelektualitas juga tercermin dari kemampuan untuk berpikir sebelum bertindak, menerima kritik, mengakui kesalahan, dan mencari jalan keluar melalui dialog. Seseorang yang benar-benar intelektual tidak harus selalu menang dalam perdebatan, akan tetapi ia harus mampu memahami mengapa orang lain memiliki pandangan yang berbeda. Organisasi adalah wadah pendidikan nonformal. Di dalamnya, mahasiswa seharusnya belajar bahwa perbedaan adalah bagian dari demokrasi dan konflik dapat diselesaikan melalui komunikasi.
Kericuhan yang terjadi antarorganisasi eksternal kampus menjadi salah satu gambaran bagaimana perbedaan dapat bergeser dari ruang dialog menuju pertentangan. Perbedaan pandangan, identitas organisasi, maupun kepentingan tertentu sebenarnya merupakan hal yang wajar dalam kehidupan mahasiswa. Yang menjadi persoalan adalah ketika perbedaan tersebut tidak lagi diselesaikan melalui argumentasi dan diskusi, melainkan melalui sikap saling menjatuhkan, intimidasi, bahkan tindakan yang berujung pada kericuhan.
Setiap organisasi tentu saja memiliki visi, misi, ideologi, dan kepentingannya masing-masing. Mempertahankan identitas organisasi bukanlah sebuah kesalahan. Namun, ketika kepentingan organisasi ditempatkan lebih tinggi daripada keselamatan, persaudaraan, dan kepentingan bersama, maka organisasi itu berisiko kehilangan tujuan awalnya.
Lebih ironis lagi apabila konflik tersebut kemudian dianggap sebagai sesuatu yang normal. Kericuhan tidak boleh dinormalisasi hanya karena terjadi atas nama organisasi atau perbedaan kepentingan. Perbedaan bukanlah alasan untuk menghilangkan rasa hormat terhadap sesama mahasiswa. Justru kualitas sebuah organisasi dapat dilihat dari bagaimana mereka menghadapi perbedaan tanpa kehilangan akal sehat dan nilai kemanusiaan.
Karena itu, konflik antarorganisasi seharusnya menjadi momentum untuk melakukan refleksi. Apakah organisasi mahasiswa masih menjadi ruang pembelajaran, atau telah berubah menjadi arena mempertahankan eksistensi dan kepentingan kelompok? Apakah kaderisasi benar-benar menghasilkan mahasiswa yang mampu berpikir kritis, atau hanya menghasilkan individu yang loyal terhadap kelompok tanpa mampu mengkritisi kelompoknya sendiri?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena organisasi mahasiswa memiliki tanggung jawab moral yang lebih besar daripada sekadar mempertahankan nama dan eksistensi. Organisasi adalah wadah pendidikan nonformal. Di dalamnya, mahasiswa seharusnya belajar bahwa perbedaan adalah bagian dari demokrasi dan konflik dapat diselesaikan melalui komunikasi.
Sudah saatnya organisasi mahasiswa kembali menempatkan intelektualitas sebagai fondasi gerakan. Adu gagasan harus lebih kuat daripada adu ego. Kritik harus lebih tajam daripada provokasi. Dialog harus lebih diutamakan daripada konfrontasi. Dan kepentingan bersama harus mampu mengalahkan kepentingan sektoral.
Jika organisasi mahasiswa gagal merawat budaya intelektual, maka yang tersisa hanyalah identitas organisasi tanpa substansi. Mahasiswa mungkin masih memiliki banyak forum, atribut, struktur, dan jargon perjuangan, tetapi kehilangan hal paling penting, kemampuan untuk berpikir secara jernih dan bertindak secara dewasa.
Pada akhirnya, organisasi yang besar bukanlah organisasi yang paling keras suaranya atau paling kuat mempertahankan kepentingannya. Organisasi yang besar adalah organisasi yang mampu melahirkan manusia yang kritis, berintegritas, dan mampu menghormati perbedaan.





